Bidadari

Posted: 30 Maret 2015 in Cerita Mama, Cerita Sedarah

Pagi itu seperti biasanya Lala bangun dari tidurnya. Sinar mentari dari jendela kamarnya telah menyilaukan matanya dan membuatnya bangun.

“Wah, kesiangan nih!” ujar Lala menggerutu.

Segera saja gadis kecil itu beregegas menuju kamar mandi. Setelah menanggalkan semua pakaiannya ia pun mulai menyirami seluruh tubuhnya. Lalu menyabuni satu persatu anggota tubuhnya mulai dari bagian atas hingga bawah. Ketika ia menyentuh bagian vitalnya, ia terkejut karena merasakan ada sisa cairan yang sudah mengering. Tapi ia tetap meneruskan mandinya. Ia buru-buru sekali pagi itu.

Sesampainya di sekolah semuanya berjalan seperti biasa. Pelajaran yang membosankan, guru yang menyebalkan, dan semua yang membuatnya jenuh. Hal itu tetap dijalani Lala dengan hati yang lapang. Namun sewaktu istirahat, ada sesuatu yang mengganggu pikiran Lala, yaitu ketika anak laki-laki di kelasnya berkumpul di pojok belakang kelas dan tersenyum senyum sendiri sembari membolak balik sebuah buku yang terkesan disembunyikan. Karena penasaran, Lala mendekati mereka dan menanyakan perihal tersebut.

“Eh, kalian lagi baca apaan sih?”, tanya Lala penasaran.
“Oh kamu La?!, mau tau aja bacaan cowok. Sana pergi!”Jawab Bombom mewakili kerumunan anak cowok itu.
Lala semakin penasaran. Namun ia tak kuasa untuk memaksakan keingintahuannya itu. Dengan berat hati, ia beranjak pergi meninggalkan kelas.

Ketika pulang sekolah, Lala langsung menuju kamarnya. Entah mengapa rasa penasarannya belum hilang juga. Sewaktu ia sedang merebahkan dirinya di kasur mendadak Ibu peri datang.
“Ada apa sayang? Kok kamu gelisah gitu?”, tanya Ibu peri.
“Bu peri, Lala masih penasaran sama kejadian tadi siang. Lala pengen tau apa sih yang mereka baca sampe Lala nggak boleh lihat”, ujar Lala lirih.
“Sayang, mereka itu membaca buku yang tidak baik. Buku bacaan buat orang dewasa. Untunglah kamu tidak ikut membacanya”, jawab Ibu peri sembari tersenyum.
“Emangnya buku apaan sih?”, tanya Lala lagi.
“Ntar kalau kamu udah gede, kamu akan mengerti sendiri”, balas Ibu peri.
Lala mengangguk, lalu Ibu peri menghilang dari pandangan Lala. Tak lama kemudian terdengar suara Bi Inem memanggil Lala untuk segera turun makan.

Keesokan harinya di sekolah, Lala menerima pelajaran Biologi di kelas. Hari itu mereka belajar mengenai sistem reproduksi manusia. Sewaktu Ibu guru menjelaskan mengenai alat-alat reproduksi manusia, sekelompok anak lelaki tampak tersenyum cengengesan. Hal itu membuat Lala menjadi risih. Mendadak Ibu guru memnggil namanya.

“Lala, coba kamu maju ke depan. Gambarkan alat reproduksi laki-laki!”, ujar Ibu guru.
“Saya Bu?”Jawab Lala gelagapan.
“Iya, kamu!”, Bu guru mempertegas suaranya.

Sontak saja suasana kelas menjadi riuh. Anak lelaki semuanya menertawakan Lala. Hal itu membuat Lala semakin grogi dan gemetaran untuk maju ke depan.

“Kenapa kalian tertawa?”, suara Bu guru memecah keramaian.

Anak-anak terdiam. Mereka menundukkan muka masing-masing. Sementara Bombom cs masih terlihat menahan senyum sembari saling melihat satu sama lain. Bu guru menjadi kesal dibuatnya.

“Coba kamu Bom, maju ke depan. Gambarkan alat reproduksi wanita beserta fungsinya!”, ujar Bu guru lantang.
“I.. iya Bu”, jawab Bombom dengan kesal.

Lala dan Bombom lalu maju ke depan kelas. Keduanya tampak bingung karena tak tau harus menggambar apa. Terutama Lala, jangankan menggambar, melihat saja ia belum pernah. Sementara Bombom, walaupun ia pernah melihat gambar porno, tetapi ia bingung bagaimana cara menggambarkannya di depan tanpa terkesan vulgar. Di saat keduanya terdiam, bel sekolah mendadak berbunyi menyelamatkan mereka.

“Baik Anak-anak, kita lanjutkan besok pagi. Buat Bombom dan Lala, ini jadi PR buat kalian. Besok kalian gambar di depan kelas lengkap dengan fungsinya”, ujar Bu guru
“Iya Bu..”Jawab mereka hampir berbarengan.

Pulang sekolah Lala melempar tasnya ke ranjang. Ia capek dan kesal sekali hari itu. Tak lama kemudian ia ketiduran hingga malam. Begitu ia tersentak, ia terkejut bukan kepalang dan lansung melompat dari tempat tidurnya. Ia teringat PR yang dikatakan Bu guru. Segera saja ia membuka tasnya mencari buku biologinya. Tetapi alangkah terkejutnya dia ketika mengetahui buku tersebut tidak berada dalam tasnya.

“Mungkin ketinggalan di kelas?”Pikirnya.

Saat dia terbengong sendiri, ia tiba-tiba teringat bahwa Bombom juga mendapat tugas yang sama. Segera saja ia menuju kamar Bombom. Tetapi yang ia dapati sungguh di luar dugaannya. Begitu pintu kamar terbuka, tampak Bombom sedang membaca sesuatu sembari memegang alat vitalnya. Penis Bombom yang sedang ereksi itu berdiri tegak mengacung. Panjangnya sekitar 14 cm, cukup gede untuk anak sebaya dia. Lala terkejut bukan main. Tapi ia tidak segera menutup pintu kamar itu melainkan malah masuk dan mendekati Bombom.

“Kamu, La?”ujar Bombom gelagapan.
“Tutup dong pintunya. Nanti dilihat orang”ujarnya lagi.

Lala bergegas menutup pintu lalu kembali mendekati Bombom.

“Astaga Bombom, kamu lagi ngapain?”ujar Lala keheranan.

Walaupun keduanya saudara seayah, namun sejak kecil mereka nggak pernah begitu dekat untuk hal-hal pribadi seperti mandi bersama atau lain-lainnya.

“Gua lagi onani, enak nih! Kamu mau pegang nggak?”Tanya Bombom sambil menunjuk penisnya.
Lala tak menjawab. Perasaan malu dan risih masih menggelayuti pikirannya. Namun, dalam hatinya juga terbersit rasa keingintahuan yang mendalam.

“Ayolah. Nggak apa-apa kok. Coba aja!”, ujar Bombom lagi.

Lala mendekat, perlahan ia sentuh Penis Bombom dengan tangannya yang mungil dan halus. Bombom terkesiap saat merasakan sesuatu yang halus dan lembut menyentuh penisnya. Lala terkejut, lalu segera melepas pegangannya.

“Aduh, Bom maaf, sakit ya?”Tanya Lala
“Nggak kok. Justru enak banget! Sini, kemariin lagi tanganmu lalu kocok-kocok kayak gini!”Jawab Bombom sembari memperagakan bagaimana cara melakukan masturbasi.

Tangan Lala mendekat kembali. Lalu dengan lembut Penis Bombom ia guncang.

“Augh.. Enak banget La! Terusin La! Augh..”Bombom memejamkan mata menahan kenikamatan yang sedang menderanya.

Lala semakin berani. Sesekali ia mengamati keseluruhan penis bombom mulai dari pangkal pelirnya hingga ujung kontol Bombom.

“Seksi banget.., punya cowok”, pikirnya

Setelah beberapa menit kontol Bombom diguncang-guncang oleh Lala, Bombom menggelinjang hebat dan menyemprotkan cairan putih kental ke mana-mana, termasuk ke muka Lala.

“Aduh La, enak banget! Maaf ya La, kena muka kamu”, ujar Bombom dengan suara berat.
“Nggak apa-apa. Tapi memang ini agak amis”ujar Lala
“Itu namanya sperma atau air mani. Cuma cowok yang bisa ngeluarin. Kalo kamu cuma bisa ngeluarin air mani. Mau dikeluarin nggak? Rasanya enak banget lho”ujar Bombom menwarkan diri.
“Emang nggak apa-apa gitu? Ntar aku nggak perawan lagi”Jawab Lala ragu-ragu.
“Ngak apa-apa. Ayo buka rok kamu”Balas Bombom lagi

Lala menamggalkan rok SLTP-nya hingga hanya mengenakan seragam sekolah dengan bawahan celana dalam putih saja. Di tengah celana dalam tersebut terdapat gambar kupu-kupu dan di tepinya berenda. Paha Lala yang putih bersih betul-betul meggairahkan. Bombom tertegun melihat pemandangan di depannya.

“Gila La!, kamu seksi banget!”Teriak Bombom.
“Ih bombom, Lala kan jadi malu. Segini aja ya. Celana dalamnya nggak usah dibuka”Jawab Lala tersipu malu.
“Ya udah sini, biar aku elus-elus memek kamu”ujar bombom

Lala seperti terhipnotis dan mendekat ke arah Bombom. Entah apa yang terdapat di benaknya. Mungkin Ia telah teransang dan merasa bergairah sewaktu memegang penis Bombom tadi.

Bombom memulai aksinya. Dengan lembut ia sentuh celana dalam Lala. Lalu ia merab-raba mencari dimana”Bibir kecil manis”Itu berada. Dan ketika ia menyentuh memek Lala yang tertutup celana dalam itu, raut muka Lala berubah. Ia mendesis dan bergumam sendiri. Bombm semakin berani, ia memesukkan jarinya ke sela-sela celana dalam Lala dan mengelus-elus memek Lala. Lala semakin salah tingkah, rasa nikmat menggetarkan seluruh tubuhnya, matanya mulai terpejam.

Hal itu dimanfaatkan Bombom untuk menrik celana alam Lala turun. Sekarang memek Lala yang mungil terpampang jelas. Bulu-bulu halus telah tumbuh diatasnya, walaupun masih tipis. Sementara ke bawah lagi seonggok daging menggumpal indah, berbelah bagai lipatan surga.

“Gila!, seksi banget nih lobang sorga!”ujar Bombom dalam hati

Lala menyadari bahwa celana dalamnya telah ditanggalkan oleh bombom, namun rasa malunya telah dikalahkan oleh nafsu birahi yang kian memuncak. Bombom merebahkan Lala ke tempat tidur. Gadis kecil itu mengangkangkan kakinya hingga memeknya kelihatan semua.

Bombom menjulurkan lidahnya lalu mulai menjilati bibir vagina Lala. Lala menggelinjaing menahan nikmat.

“Gila! Enak banget Bom, terus Bom.. Augh..”ujar Lala menggeliat.

Bombom terus menjilat-jilat memek Lala hingga seluruh bagian memek mungil tersebut basah oleh air liurnya. Sebenarnya ia pengen sekali memasukkan jarinya ke dalam memek saudarinya itu. Namun ia takut saudarinya itu kehilangan keperawanannya. hingga akhirnya ia urungkan niatnya dan tetap terus menjilati memek Lala.

Beberapa saat kemudian, Lala mengelinjang hebat dan mengeluarkan cairan dari lobang memeknya. Rupanya Lala telah mencapai orgasmenya yang pertama. Bombom memandangi wajah Lala yang keletihan dengan puas.

Lala lalu terjaga dari “Tidurnya”, lalu menoleh ke arah Bombom.

“Bener-bener enak Bom!” Pantas kamu ketagihan”ujar Lala
“Gua bilang juga apa.”Jawab Bombom

Lala lalu mengenakan pakaiannya kembali. Mendadak ia teringat PR yang diberikan Ibu guru.

“Bom, Kamu udah buat PR? Gua pinjam buku biologi kamu dong” ujar Lala.
“Belom, kebetulan buku gua juga dipinjam sama Jessica. Udah, kamu gambar aja ini” ujar Bombom sambil menunjukkan penisnya.
“Lho kok mengecil?” Tanya Lala keheranan.
“Iya dong, kan capek. Kalo kamu pengen gedein lagi, elus lagi dong” ujar Bombom cengengesan.
“Ah, kamu bisa aja”Jawab Lala.

Malam itu keduanya mengerjakan PR mereka sambil mengenal organ seks masing-masing. Lala jadi mengerti seluk beluk penis Bombom, dan bombom memahami memek cewek melalui”Pendekatan”Secara langsung dengan memek Lala.
“Huh.., bete banget deh” sungut Lala sambil mematikan TV.

Sekarang Lala sedang sendirian di rumah. Sudah seminggu ini, Papa Lala tugas keluar kota dan rencananya baru pulang minggu depan. Mama Lala sedang pergei arisan di rumah temannya. Bombom juga pergi menginap di rumah temannya. Pembantu mereka pulang kampung menjenguk keluarganya yang sakit. Ibu peri juga jarang menjenguk Lala. Bosan menonton TV, Lala lalu pergi ke kamarnya di lantai dua.

“Coba Bombom nggak pergi, kita bisa main kayak kemarin dulu” pikir Lala.

Memang sejak pengalaman oral seksnya dengan Bombom, Lala sering mengulangi perbuatannya dengan Bombom. Tentu saja diam-diam kalo Mama dan Papa Lala lagi nggak ada dirumah. Bahkan Ibu peri pun tidak Lala beri tahu tentang aktivitasnya yang satu ini.

Lala berdiri di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Kemudian dia melepas pakaian, BH, dan celana dalamnya. Sekarang Lala telanjang bulat sambil memandang dirinya sendiri di cermin. Lala memandangi wajahnya yang cantik manis, kulitnya yang putih mulus, dadanya yang baru tumbuh dengan puting mencuat gara-gara bombom sering gemas kalo mengulum puting itu, dan vaginanya yang terawat dengan bulu-bulu halus yang masih jarang.

“Uuhh.., enak.”, desah Lala sambil tangannya yang kiri mengelus lembut dadanya sendiri.

Sesekali dipilinnya putingnya sambil membayangkan kalo Kak Rendi yang sedang melumat putingnya itu. Tangan kanannya juga tidak Lala biarkan menganggur tetapi sibuk mengusap lembut vaginanya terutama bagian agak menonjol yang bernama klitoris seperti yang sudah dipelajari Lala dalam pelajaran anatomi tubuh manusia di sekolah. Lala merasa nikmat sekali bila klitorisnya diusap-usap, apalagi kalo dihisap mulutnya bombom. Mata Lala terpejam, kelihatannya dia asyik menikmati perbuatannya itu sampai Lala tidak menyadari kalo ada seseorang membuka pintu kamarnya.

“LALA! Apa yang kamu lakukan?!”

Lala kaget sekali. Dia segera menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke pintu kamarnya. Ternyata disana sudah berdiri Mama Lala dengan wajah yang kelihatannya sangat marah.

“Mmaa.. Ma”, kata Lala sambil ketakutan.

“Ehm ternyata kalo lagi sendirian, kamu sering melakukan perbuatan kurang ajar seperti ini ya?!”, cibir Mama Lala.

“Mm.. maafin Lala, Ma”, jawab Lala ketakutan sambil berusaha menutupi dada dan kemaluannya.

Mama Lala mendekat sambil memandang Lala yang masih telanjang.

“Ehm.. anak kurang ajar ini rupanya sudah tumbuh jadi gadis yang cantik sekali. Sekarang aku punya kesempatan mencoba oleh-oleh dari temenku dari Belanda sambil mempraktekan apa yang kulihat dari VCD kemarin.”, pikir Mama Lala dalam hati.

“Kamu akan Mama hukum. Sekarang tunggu disini dan jangan pakai bajumu. Kalo kamu tidak mau menurut sama Mama, akan Mama beritahukan perbuatan kamu ini ke Papa.”, kata Mama Lala sambil keluar kamar.

“Iya, Ma.”, jawab Lala pelan.

Lala takut sekali kalo Mama mengadukan dia ke Papa. Lala berpikir hukuman apa yang akan dijatuhkan Mama. Apa dia akan dipukul? Tapi Lala berpikir lebih baik dipukul daripada diadukan ke Papa.

Tak lama kemudian Mama Lala kembali dengan hanya memakai kimono sambil membawa sebuah kotak. Mama menyuruh Lala berdiri mendekat. Kemudian Mama melepas kimononya. Lala kaget, ternyata Mamanya tidak memakai apa-apa di balik kimononya. Diam-diam Lala kagum terhadap Mamanya yang jelas merawat tubuhnya dengan baik. Lala mengamati wajah Mamanya yang masih cantik, tubuhnya yang masih langsing dan bagus, dadanya juga indah, besar tapi tidak turun dan masih padat, dan vagina Mamanya ternyata bulunya dicukur habis.

“Sekarang kamu harus menurut sama Mama dan jangan ceritakan ini ke siapa pun. Kalo tidak Mama akan melaporkan kamu ke Papa”, perintah Mama.

“Iya, Ma.”, jawab Lala ketakutan.

Tiba-tiba Mama Lala mencium bibir Lala dengan penuh nafsu. Mama Lala penasaran ingin tahu rasanya bercinta sesama perempuan setelah dia melihat VCD porno milik temennya yang ada adegan lesbinya. Sekarang dia bisa mencobanya dengan anak tirinya ini.

Lala terkejut tetapi dia tidak berani melawan perbuatan Mamanya. Diam-diam Lala bersyukur bahwa hukumannya ternyata tidak dipukul seperti biasanya. Lala heran dengan perbuatan Mamanya tapi lama-lama Lala juga menikmatinya. Lidah Mamanya bergerak liar dimulutnya, Lala pun meniru perbuatan Mamanya. Mulanya memang Lala agak kaku dan risih, tapi kemudian dia menikmatinya. Apalagi tangan Mamanya juga mulai meremas-remas pantat Lala sambil sesekali mampir mengusap-usap memek Lala, dan tangan satunya liar beroperasi di dada Lala sambil memilin putingnya. Nafsu Lala mulai naik seperti kalo dia lagi oral dengan bombom. Lala merasa kakinya mulai lemas oleh kenikmatan.

“Ma, Lala capek berdiri.”, keluh Lala.

“OK. Sekarang kita ke ranjang aja.”, jawab Mama sambil mendahului tidur di ranjang Lala.

“Kamu juga naik kesini dan cium susu Mama sambil diremas-remas.”

Lala menurut. Lala menciumi payudara Mamanya yang besar itu sambil tangannya meremas payudara yang satunya.

“Eehhm.. yeah. Terusin La, isep putingnya. ookh.. anak pintar.”, desah Mama Lala keenakan.

Lala senang mendengar Mamanya senang. Mama nggak pernah memuji Lala sebelumnya. Lagipula Lala suka melakukan perintah Mamanya yang satu ini. Lala gemas dengan payudara Mamanya, dia suka sekali kalo Mamanya mendesah keenakan ketika putingnya Lala isap keras-keras.

“Aakh.. bagus sayang. Memek Mama coba kamu usap pake tangan kamu. aakh.. yeah begitu. Jari kamu masukin ke lubang memek Mama, pakai tiga jari biar lebih enak. ookh kocok-kocok keluar masuk. aakh..”

Lala mengocok memek Mamanya, mula-mula pelan lalu bertambah cepat. Lala merasakan jarinya basah oleh cairan, memek Mamanya jadi agak becek oleh cairan kenikmatan yang membanjir.

“Eehm.. sekarang jilatin memek Mama.”, perintah Mama Lala.

Lala mencoba apa yang sering dilakukan Bombom pada memeknya kalo lagi oral. Lala menciumi memek Mamanya, lidahnya bergerak liar sambil sesekali menusuk lubang memek itu. Tak lupa, Lala juga mengulum klitoris Mamanya dengan kuat karena Lala merasa paling enak kalo Bombom mengulum klitorisnya. Tubuh Mamanya kontan tersentak, dan pantatnya agak terangkat sebentar.

“Ookh.. eehm.. belajar dari mana kamu sayang?”, tanya Mama Lala.

Lala tak berani menjawab kalo Bombom yang mengajari. Lala meneruskan mengerjai memek Mamanya sambil sekarang jarinya ikut mengocok memek Mamanya dengan cepat.

“Aakkhh.. Mama nyampe sayang. aakkhh..”, jerit Mama sambil menjepitkan pahanya dan tangannya menjambak rambut Lala.

Mama Lala beristirahat sejenak sambil menikmati sisa-sisa orgasmenya yang pertama. Kemudian Mama Lala menyuruh Lala tidur telentang. Sekarang gantian Mama Lala yang beroperasi.

“Kamu cantik sekali La. Mama akan bikin kamu merasa keenakan.”, puji Mama.

Lala senang sekali. Mama mencium bibir Lala sambil tangannya meraba-raba tubuh Lala. Ciuman Mama turun ke leher. Lala menikmatinya, nafsunya mulai naik. Kemudian mulut Mama beroperasi di dada Lala yang baru tumbuh dan masih terlihat datar. Puting Lala dikulum kuat-kuat oleh Mama sambil tangannya mulai aktif di memek Lala.

“Eehmm.. Enak Ma esstt..”, desah Lala.

Puting Lala bertambah keras dan besar karena rangsangan dari Mama. Kemudian kaki Lala dibuka karena Mama Lala akan mengerjai memek anaknya itu. Mama Lala mulai menjilat memek anaknya.

“Sstt aakh.. terus Ma.”, erang Lala bertambah keras.

Lidah Mamanya terasa mengorek-ngorek liang memeknya dengan liar. Lala mendesah merasakan nikmat birahi yang melanda dirinya. Apalagi ketika Mamanya menyedot klitorisnya, badan Lala sampai melengkung ke atas menahan nikmat. Mama Lala pun menemukan keasyikan tersendiri menjilati memek anak tirinya itu. Dia terus menjilati memek anaknya. Semakin Lala mendesah dengan keras dan merasa nikmat, Mama Lala pun semakin bersemangat mempermainkan memek mungil yang masih perawan itu. Mama Lala pun menahan diri untuk tidak menggunakan jarinya, belum waktunya pikir Mama Lala.

“Aakkhh.. aah Ma, Lala.. eh.. Lala..aakh..”.

Lala merasakan ada sesuatu dalam dirinya yang mau jebol keluar dan dia tidak dapat menahannya lagi. Kakinya dirapatkan menjepit kepala Mamanya. Lala pun mengalami orgasmenya yang pertama. Cairan kenikmatan Lala yang membanjir keluar ditelan habis oleh Mamanya. Setelah itu badan Lala lemas dan dia terkulai di ranjangnya.

“Hukuman untukmu belum selesai Lala.”, kata Mamanya.

Lala melihat Mamanya berdiri dan menghampiri kotak yang ada di meja. Kelihatannya Mamanya mengambil sesuatu dari dalam kotak lalu memasangnya seperti sabuk melingkari pinggang dan pantatnya. Lala tidak bisa melihat benda itu dengan jelas karena Mamanya memunggunginya. Dan ketika Mamanya berbalik, Lala kaget sekali. Benda itu ternyata berbentuk seperti burungnya bombom tetapi dari karet dan dua kali lebih besar dari punya Bombom. Penis karet dipasang Mamanya hingga seakan-akan Mamanya adalah laki-laki.

“Ma, kok Mama pake barang kayak gitu sih?”, tanya Lala heran.

“He.. he.. kamu pasti suka sama barang ini. Sekarang kamu kulum kontol ini pake mulut kamu.”, perintah Mama.

Lala menurut, lagipula Lala memang suka mengulum burungnya Bombom. Dan punya Mama kelihatannya lebih besar dan menarik sekali. Lala mempraktekan pengalamannya dengan burung Bombom pada mainan Mamanya. Tapi penis mainan Mama ternyata lebih besar, mulut Lala hampir tidak muat menampung besarnya benda itu. Walaupun dipaksa, penis mainan itu cuma bisa masuk separuhnya. Mama Lala memegangi kepala Lala sambil memaju mundurkan pinggulnya seperti memperkosa mulut Lala. Mama Lala menikmati perbuatannya itu sambil tertawa senang. Kemudian Mama Lala mengajak Lala memainkan posisi 69 dengan Mama Lala dibawah agar dapat menjilati memek anaknya lagi.

“Eehm.. eehhmm.. sst.. aakh Mama.. enak Ma ehhm.. eehm.”, desah Lala saat dia mengambil nafas, lalu dia meneruskan kulumannya.

Lala pun mulai terangsang kembali. Kemudian Mama Lala menyuruh Lala tidur terlentang. Lalu mengambil posisi misionaris untuk memerawani Lala dengan penis mainannya itu.

“Apa yang Mama lakukan?”, tanya Lala.

“Tenang saja sayang, kamu pasti senang.”, jawab Mama Lala sambil menggesek-gesekkan kepala penis mainan itu ke memek Lala.

Lala merasa nikmat saat memeknya digesek ujung mainan Mamanya. Apalagi Mamanya mulai melumat bibirnya lagi sambil tangannya memilin putingnya yang kini semakin keras.

“Aduuh.. sakiitt Maa.”, jerit Lala karena Mama mulai berusaha memasukkan penis itu ke memeknya.

“Cuma sebentar, nanti juga enak lagi.”, jawab Mama sambil memompa penis yang baru masuk kepalanya saja.

Lala mulai merasa enak bercampur sedikit perih. Sampai..

“AAKKH.. SAKIIT MAA..”, jerit Lala ketika Mamanya tiba-tiba menekan amblas hingga penis itu menjebol selaput daranya.

Mama Lala mendiamkan dulu gerakannya agar memek Lala terbiasa dengan penis besar itu. Dia pun mencium lagi bibir anaknya dan memainkan payudara anaknya agar Lala teralihkan rasa sakit akibat jebol keperawanannya. Ketika Lala sudah agak tenang, Mama Lala mulai memompa pelan-pelan.

“Aakh.. ii.. iiya Ma. Terus Ma.”, desah Lala ketika dia mulai merasakan nikmatnya seks walaupun masih ada sedikit rasa perih. Mama Lala pun merasa keasyikan tersendiri ketika dia berperan sebagai laki-laki dengan penis mainannya itu.

“Uukkhh.. enak Ma. Terusin Ma. Lala sayang Mama.”, desis Lala.

Lala memang merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, bahkan melebihi permainannya dengan Bombom. Mama Lala semakin bersemangat mendengar desahan Lala dan diapun makin mempercepat pompaannya di memek anaknya.

“He..he.. kamu suka khan dientot sama kontol Mama ini?”, kata Mama.

“Iiya Ma. Lala suka.”, jawab Lala.

“Suka ngapain? Ayo bilang. Kamu suka dientot sama kontol Mama ini. Ayo.”, perintah Mama Lala.

“Aakkh.. Lala suka.. aakh Lala suka dientot sama kontol Mama yang gede.”, jawab Lala yang mulai terhanyut dalam permainan Mamanya.

Mama Lala senang mendengar Lala ngomong jorok begitu, dan dia pun makin gencar melakukan tusukannya sambil diselingi goyangan agar Lala bertambah nikmat.

“Uukkh.. terus Ma. Enaakk.. aakkhh.”, desah Lala sambil menggoyang pinggulnya mengikuti irama pompaan Mamanya.

“Kamu memang lonte kecil. Lonte yang suka dientot sama kontol besar.”, kata Mama Lala yang semakin terangsang dengan ngomong yang jorok-jorok.

“Iya, Ma. Lala ini lonte yang senang dientot. aakkhh Entot terus Ma.”, jawab Lala meniru kata-kata Mamanya yang jorok.

Mama Lala senang mendengar desahan dan ucapan jorok Lala. Dia menikmati melihat wajah Lala yang terangsang. Gadis cantik yang baru tumbuh dewasa itu terengah-engah keenakan. Kadang dia menggigit bibirnya menahan nikmat. Ekspresinya yang sedang terangsang membuat Lala semakin kelihatan cantik.

“Ma, Lala.. aakh.. Lala mau..”, desis Lala.

Melihat anaknya akan orgasme, Mama Lala mengangkat pantat Lala dan memompa Lala semakin cepat.

“Aakkhh.. Lala nyampe, Ma.”, erang Lala saat mencapai orgasmenya yang kedua.

Lala menjepitkan kakinya ketat ke pinggul Mamanya. Tangannya menarik dan memilin putingnya sendiri. Matanya terlihat putihnya saja dan bibir bawahnya digigit sendiri menahan sensasi orgasme yang dia rasakan. Mama Lala akan membiarkan Lala istirahat sebentar ketika..

“Ma, Bombom boleh ikutan nggak?”, tanya suara dari arah pintu kamar.

Mama Lala kaget. Saat dia menoleh ke arah pintu, dia melihat anaknya si Bombom sudah telanjang bulat sambil memegangi burungnya yang sudah berdiri.

Tetapi Mama Lala malah tersenyum dan berkata, “Boleh, sayang. Ayo kesini”.

Bombom kegirangan, dan segera naik ke ranjang. Dia berdiri di atas lututnya dan mengangkangi tubuh Lala. Bombom lalu menyuruh Lala mengkaraoke burungnya. Lala menurut walaupun sudah lemas.

“Aakh enak La. Helen aja kalah pinter kalo urusan kayak begini.”, kata Bombom.

Sementara itu, Mama Lala sedang membersihkan memek Lala dengan kain lap. Terlihat ada noda merah di cairan Lala, tanda kalo dia sudah tidak perawan lagi. Kemudian dia menjilati memek Lala untuk membangkitkan birahi anak tirinya lagi.

“Ma, minggir dulu, Ma. Bombom pengen ngentot nih.”, pinta Bombom dengan nafsu.

“Tunggu, sayang. Kamu tiduran saja di situ. Mama mau ambil sesuatu.”, perintah Mama.

Bombom menurut, dia tiduran setengah bersandar pada kepala ranjang dengan diganjal bantal pada punggungnya. Mama Lala pergi ke kotak di meja, melepas penis mainan dan mengambil bungkusan kecil. Setelah Mamanya mendekat, Bombom baru tahu kalo yang diambil Mamanya adalah kondom. Lalu Mama memasang kondom itu pada burung Bombom.

“Ayo, Lala. Naik ke atas Bombom.”, perintah Mama.

“Tapi Lala masih capek, Ma.”, jawab Lala lemah.

“Jangan membantah. Bombom sudah pengen ngentot kamu. Sini Mama bantu.”, jawab Mama sambil membantu Lala.

Mama membimbing Lala duduk diatas Bombom dengan memeknya tepat di atas burung Bombom. Mama menuntun penis Bombom memasuki memek Lala yang walau sudah tak perawan tapi masih rapat.

“Aakkhh.. memek kamu enak banget, La. Burungku kayak dijepit.”, desah Bombom.

Bombom senang posisi ini karena dia bisa melihat wajah Lala yang cantik dan tangannya pun bisa mengerjai puting Lala. Sementara itu, Mama Lala yang memeluk Lala dari belakang membantu Lala memompa penis Bombom sambil menciumi leher Lala dari belakang.

Pelan-pelan, birahi Lala naik lagi karena kocokan penis Bombom di memeknya, putingnya yang dipilin Bombom dengan gemas, juga ciuman Mama di lehernya. Lala mulai mendesah pelan mengiringi desahan Bombom yang keenakan.

Setelah Lala mulai pulih, Mama meninggalkan kedua anaknya yang asyik ngentot. Mama mengambil penis mainan dari dalam kotak dan memakainya. Tetapi yang ini lebih kecil dari yang tadi, kira-kira besarnya sama dengan burung Bombom. Mama kembali lagi ke ranjang sambil membawa botol kecil dari plastik. Kemudian Mama menyeret tubuh Bombom agak ke bawah hingga Bombom tidur terlentang. Lalu Mama mendorong tubuh Lala ke depan hingga Lala telungkup merapat dengan Bombom, dan memek Lala masih mencengkeram burung Bombom. Bombom menyambut Lala dengan melumat bibir Lala. Kemudian Mama menjilati anus Lala dan menusukkan lidahnya ke lubang anus itu.

“Uukh.. geli, Ma. Enak.”, desah Lala.

Mama tersenyum, dia mau mencoba ide yang muncul saat Bombom minta bergabung tadi. Mama mengambil botol kecil tadi, lalu menyemprotkan isinya ke lubang anus Lala. Kemudian diratakan dengan jarinya yang berusaha membuka sedikit anus Lala hingga cairan itu bisa masuk ke dalam liang belakang Lala.

“Apa itu Ma? Rasanya dingin.”, tanya Lala.

“Kamu tenang aja. Mama jamin ini lebih enak dari yang tadi.”, bujuk Mama.

Lalu Mama memposisikan penis mainannya yang sudah dipasang kondom dan diolesi cairan pelumas dari botol tadi ke liang anus Lala. Mama mulai berusaha memasukkan penis mainannya ke anus Lala.

“Aduh Ma. Mama ngapain Ma? Sakit Ma.”, rintih Lala.

“Pertamanya aja kok yang agak sakit. Ntar juga enak.”, bujuk Mama.

Mama terus memaksa mainannya masuk, dan nggak peduli Lala yang merintih kesakitan. Penis mainan itu dimasukkan pelan-pelan sampai masuk semuanya. Lalu Mama membiarkan dulu sampai Lala agak tenang. Bombom juga membantu Lala melupakan rasa sakitnya dengan melumat bibir Lala lagi.

Beberapa saat kemudian Mama mulai memompa penis mainannya pelan-pelan. Mula-mula Lala merasa anusnya perih sekali, tubuhnya terasa penuh dengan dua penis di kedua lubangnya. Tapi setelah lancar, Lala mulai merasakan sensasi kenikmatan yang melebihi persetubuhannya dengan satu penis. Apalagi Mama mulai meningkatkan irama kocokannya. Bombom yang ada dibawah pun merasa nikmat sekali. Memek Lala terasa lebih rapat dan menggigit karena penis Mama yang ada di anus Lala. Walaupun Bombom tidak bergerak tapi kocokan Mama diatas membuat pergerakan otot memek Lala seperti memijat-mijat burungnya.

“Aakkhh.. iya, Ma. Sekarang rasanya jadi enak lagi. aakh.. sst.. terus.. entotin yang cepet, Ma.”, erang Lala yang mulai merasakan sensasi nikmat threesome.

“Uuhf.. memek kamu rasanya tambah sempit. Kamu suka kontolku, La?”, rayu Bombom. Bombom mengimbangi gerakan Lala dan Mamanya dengan menggoyang pinggulnya memutar.

“Kontol kamu enak juga kok Mbom. aakh..eehhmm..”, Lala mendesis keenakan.

Ibu dan anak-anaknya itu terus memacu birahi mereka. Tubuh mereka sudah mengeluarkan peluh.

“Hei Lonte, kamu suka dientot dua kontol begini? Ayo, jawab.”, Mama mulai ngomong jorok lagi sambi mempercepat kocokannya. Rambut Lala yang panjang dijadikan pegangan untuk lebih cepat mengocok.

“Suka, Ma. Lala paling suka ngentot. aakkhh entot Lala terus Ma. Tiap hari.”, sahut Lala.

Lala merasa memek dan anusnya penuh. Gerakan dua penis di memek dan anusnya memberikan sensasi yang luar biasa. Putingnya yang menempel di dada Bombom, tergesek-gesek dan membuat putingnya makin mengeras karena nikmat. Tiba-tiba Lala merasa seperti gunung mau meletus. Kenikmatan-kenikmatan yang dia terima membuat kelenjar didalam tubuhnya mengumpul dan mau muntah keluar melalui memeknya. Kenikmatan ini lebih dari orgasme sebelumnya.

“Aakhh.. sstt.. aakkhh.. Lala mau nyampe.”, erang Lala.

Lala pun menggapai orgasmenya yang ketiga dan keempat sekaligus. Lala baru merasakan indahnya multi orgasme. Mama melepaskan penis mainannya dari anus Lala. Bombom yang belum keluar segera membalik tubuh Lala dan bersiap-siap menggenjot Lala lagi.

“Berhenti dulu, mBom. Lala capek bener nih.”, pinta Lala memelas.

“Sini. Pake memek Mama aja, mbom.”, sahut Mama yang sudah melepas peralatannya.

Mama mengambil posisi menungging di atas tubuh Lala. Bombom pun langsung mengocok memek Mamanya dari belakang dengan cepat. Lala pun tidak ketinggalan mengajak Mama berciuman sambil tangannya meremas-remas dada Mamanya.

“Uuhhff.. Bagus, anak-anak. Kalian pintar sekali.”, desah Mama keenakan.

Bombom terus mengocok memek Mamanya yang masih terasa menggigit walau sudah punya anak. Apalagi goyangan Mamanya, top. Tak lama, Bombom mulai merasa kalo mau keluar.

“Ma.. Bombom mau keluar, Ma.”

“Tunggu Mama. Mama juga mau nyampe. aakkh..”, erang Mama.

Kemudian Ibu dan anak itu orgasme bersamaan. Setelah itu mereka bertiga istirahat dan tertidur di ranjang bersama-sama. Sejak saat itu, mereka sering bermain seks bila Papa tidak ada dirumah. Kadang berdua, kadang bertiga. Lala juga senang sekali karena sikap Mama terhadapnya berubah menjadi baik, tidak lagi seperti dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s