Archive for the ‘Cerita Lesbi’ Category

Sepi Sendiri

Posted: 21 Juli 2011 in Cerita Lesbi

Sambil melemparkan kertas yang sudah lecek itu ke lantai, Fani menghenyakkan tubuhnya dengan kesal ke kasur. Matanya menerawang, wajahnya tampak galau. Sudah 2 bulan berlalu sejak Ema pindah ke Surabaya mengikuti orang tuanya yang dipindah tugas ke sana. Fani, sang siswa kelas 2 SMP berwajah cantik, berambut hitam panjang dan lurus, dengan tinggi 162 cm dan berat 48 kg, seorang anak kecil yang baru memasuki masa puber dan baru mulai menjelajahi seksualitas tubuhnya, merindukan kekasihnya, Ema, sang adik kelas yang berwajah cantik berambut cepak seperti lelaki. Fani merindukan kasih sayang dan kehangatan tubuhnya, serta merindukan sentuhan lembutnya. Namun surat dari Ema yang baru diterimanya siang itu seakan tak menunjukkan Ema juga merindukan dirinya. Segalanya baik-baik saja dan menyenangkan bagi Ema. Kesibukan pindahan dan mengurus sekolah baru dan segala tetek bengek lain membuat Ema tak sempat menulis surat lebih dini. Besok hari pertama liburan sekolah, membuat Fani merasa semakin kesepian dan sendirian. Air mata mulai mengambang di pelupuk mata Fani. Ia menggigit bibir menguatkan hati dan memeluk guling, berusaha melupakan kegalauan di hatinya. Fani jatuh tertidur dengan gelisah.

Esok paginya Fani keluar kamar dalam keadaan yang lebih tenang. Fani turun mendapatkan rumah sepi, hanya Iroh sendirian sedang mengepel lantai. Pembantu rumah tangga keluarga Fani ini baru berusia 22 tahun, belum menikah, namun tak seperti pembantu idaman para lelaki nakal yang umumnya seksi dan cantik. Walau berdada montok, Iroh bertubuh agak gemuk, berkulit hitam dan sama sekali tidak cantik.

“Mbak Iroh, Mama ke mana?”
“Tadi pergi pagi-pagi banget, Neng. Katanya ke rumah Bu Anwar,” jawab Iroh.

Setiap ke rumah Bu Anwar pasti Mama pulangnya baru sore banget, adiknya dibawa, berarti aku akan semakin kesepian dan sendirian seharian ini, pikir Fani. Ia pergi ke ruang makan, meninggalkan Iroh melanjutkan tugasnya, duduk dengan pasrah di meja makan, meminum segelas susu. Tak bersemangat, Fani memutuskan untuk pergi mandi, mungkin akan membangkitkan semangatnya.

Fani bermaksud mengatur keran air panas dan air dingin agar kehangatan air sesuai dengan yang ia inginkan. Namun Fani tak memperhatikan bahwa posisi pengatur air sedang ada di kiri, hingga saat membuka keran, air dingin tak mengucur dari keran ke dalam bathtub, melainkan langsung mengucur dengan deras dari shower di atas kepalanya, membasahi Fani yang belum buka pakaian. Dengan terkejut, Fani kontan menutup keran kembali. Fani terpana menatap dasternya yang basah cukup banyak dan melekat di pahanya. Namun kejadian ini memancing pikiran nakal dalam benaknya. Ia tersenyum nakal.

Kali ini Fani memindahkan posisi pengatur air lebih dahulu, lalu mulai mengatur kedua keran hingga puas dengan kehangatan air yang mengucur dari keran. Lalu, tanpa membuka dasternya, Fani memindahkan posisi pengatur air hingga air hangat mengucur dari shower, membasahi seluruh tubuhnya sekaligus seluruh pakaiannya. Fani berdiri di bawah kucuran air, meraba-raba tubuhnya dari balik dasternya yang telah basah kuyup dan melekat di tubuhnya. Ia sabuni tubuh yang masih dibalut daster basah itu dengan sabun cair hingga berbusa melimpah. Fani terkikik geli melihat pemandangan ini. Kenakalan ini membangkitkan semangatnya kembali, membuatnya berani. Sendirian tak berarti tak bisa menikmati suasana, pikirnya. Gesekan tangannya tiba di selangkangannya dan Fani pun menyelipkan tangannya ke balik daster basahnya dan menyabuni selangkangannya yang masih terbalut celana dalam.

“Mmmhh..” Pikiran nakal dan sentuhan pada bagian peka di tubuhnya mulai membangkitkan birahi Fani. Ia melanjutkan sentuhan-sentuhan lembutnya pada selangkangannya, lalu mulai menyelipkan sebelah jarinya ke dalam celana dalamnya, menyentuh bibir vaginanya yang telah basah kuyup, selain oleh air hangat dari shower, mungkin oleh lendir gairahnya juga.

“Mmmhh..” Fani kembali mendesah merasakan setruman rangsangan hangat dan lembut yang disebabkan oleh sentuhan jarinya sendiri itu. Pikirannya semakin nakal dan melayang ke khayalan sensual yang telah lama tertanam dalam benaknya, namun tak pernah benar-benar ia khayalkan. “Mmmhh..” Dengan mata terpejam, jarinya kembali bergerak memberi gesekan lembut pada bibir vaginanya, lagi, lagi, lagi, dan “CLACK!” Tersentak dari khayalannya, Fani membuka mata mendapatkan Iroh di pintu kamar mandi dengan mata terbeliak memandangnya.

“Ehh, ma’ap, Neng! Kok Neng Fani mandi pintunya nggak dikunci?”
Fani sudah tak ingat bahwa ia lupa mengunci pintu karena benaknya terlalu disibukkan dengan khayalan nakalnya untuk mandi tanpa melepas pakaian.
“Lagian kok Neng Fani mandi masih pakai daster sih?” tanya Iroh lagi sambil matanya menyapu seluruh tubuh Fani, dan terhenti dengan terkejut pada tangan Fani yang terselip ke balik dasternya, terjepit selangkangannya.
“Ma’ap, Neng.. ma’ap..” kata Iroh terbata-bata sambil beranjak keluar dan menarik pintu kamar mandi.
“Mbak!” sentak Fani.
Iroh terhenti dalam keadaan pintu setengah tertutup.
“Masuk, Mbak!” kata Fani.
Iroh tak bergerak.
“Sini!” sentak Fani lagi.

Dengan ragu, Iroh pun masuk kembali ke kamar mandi. Fani sendiri baru menyadari bahwa tangannya masih terjepit di selangkangannya, namun tatapan Iroh pada tubuhnya yang terbalut daster basah melekat, penuh busa sabun, dengan tangan di selangkangan, tatapan Iroh pada kenakalannya, tak membuat Fani merasa malu atau takut, sebaliknya hal itu semakin membangkitkan birahi dalam dirinya. Rasa tertangkap basah sedang berbuat nakal membuat dirinya merasa jalang. Fani sangat menyukai perasaan itu dan ia sangat terangsang karenanya. Fani melepas tangannya dari selangkangannya dan menatap Iroh yang tertunduk tak berani menatap majikan mudanya ini.

“Mbak Iroh tutup pintunya dulu, terus duduk di kloset,” kata Fani memerintahkan, kali ini dengan lembut dan tak menyentak. Iroh dengan bingung menjalankan perintah majikannya. Ia duduk di kloset duduk yang tertutup itu, namun tetap menunduk tak berani memandang Fani. “Santai aja, Mbak,” kata Fani lagi dengan lembut, “Mbak lihat ke sini dong,” lanjut Fani dengan nada memohon namun terbersit sedikit nada nakal pada suaranya. Iroh ragu dan tak langsung berani menatap hingga Fani melanjutkan dengan manja, “Mbaak.. ayo dong.. Nggak papa kok.”

Iroh akhirnya berani mengangkat kepala mendapatkan Fani tersenyum nakal ke arahnya, lalu menarik dasternya yang telah basah kuyup melekat pada tubuhnya itu secara perlahan dan menggoda. Masih terus terpercik air hangat dari shower, Fani bahkan menggoyang-goyangkan pantatnya perlahan dengan nakal sementara dasternya semakin tertarik ke atas, menampilkan celana dalam yang sama basahnya. Iroh menelan ludah antara canggung dan bingung menyaksikan strip show nakal majikan belianya yang cantik ini. Akhirnya seluruh daster terlepas dan Fani menyabetkan daster basah itu ke arah Iroh sehingga air menciprat deras pada sang pembantu.
“Ah!” pekik Iroh terkejut.
“Neng Fani nakal! Iroh basah nih!” sentak Iroh walaupun tak bernada marah, bahkan ia terkikik geli setelah itu.
Fani tersenyum menyadari Iroh sudah semakin rileks menghadapinya, dan kata-kata “nakal” dari mulut sang pembantu membuat darahnya berdesir dan semakin membangkitkan gairahnya.

Fani menjatuhkan daster ke lantai dan mini set di dada mungilnya mulai dilepas dan segera menyusul sang daster di lantai. Di bawah percikan shower, Fani yang kini tinggal memakai celana dalam mulai meraba-raba buah dada dan puting mungilnya dengan lembut. Kepalanya terdongak ke atas dan bibir tergigit merasakan birahi yang mulai semakin merebak dalam tubuhnya. Mendadak Fani menengok dan menatap Iroh yang tampak menyukai pertunjukan sensual di depannya. Sepenuhnya menyadari ada yang menyaksikan kenakalannya membuat rangsangan dalam diri Fani semakin meledak-ledak. Dengan gerak semakin menggoda, Fani mengangkat kedua tangan ke kepala, mempertontonkan ketiaknya yang putih mulus tanpa bulu, sambil menggoyang-goyang pantat dan dadanya dengan lembut, perlahan dan sensual, di bawah kucuran deras air hangat yang menetes-netes dari tubuhnya. Fani lalu menyibak rambutnya yang panjang hitam dan basah itu hingga tersampir di depan dadanya. Ia menatap mata Iroh lalu menggerakkan bibirnya memberi kecupan jarak jauh sampai berbunyi, “Cup!” Iroh hanya bisa tersenyum kecut melihat ini.

Fani berbalik lalu mulai melorotkan celana dalamnya, juga secara perlahan dengan gerakan pantat yang semakin lama semakin menyembul keluar itu, menggoda Iroh yang menelan ludah menyaksikannya. Fani menungging dan melepas celana dalam dari pergelangan kakinya, namun mempertahankan posisi itu beberapa saat sambil menggoyang pantat mulusnya dengan nakal dan menggoda. Fani kembali berbalik menghadap Iroh, lalu ia melempar celana dalamnya secara asal hingga menceplok keras di cermin, membasahi cermin yang berkabut oleh hawa panas dari air shower, lalu perlahan-lahan celana dalam basah sang gadis nakal merosot hingga mendarat di wastafel. Fani mengangkat sebelah kakinya ke pinggir bathtub sehingga pahanya yang kini mengangkang lebar itu mempertontonkan vaginanya yang telah merekah penuh birahi dan basah kuyup oleh guyuran air hangat dan lelehan lendir gairah. Tidak membuang waktu, Fani langsung mendaratkan jarinya menggesek-gesek vagina mudanya yang berwarna merah muda itu dari bawah ke atas secara perlahan dan menggoda, membuat Iroh menggigit bibir mengkhayalkan kenikmatan nakal yang kini dirasakan sang majikan belia.

“Mmm.. mm.. mm.. oohh..” desah Fani mulai terdengar di sela nafasnya yang tersengal-sengal menahan gairah selagi jarinya menggesek-gesek vaginanya. Gesekan jari Fani berhenti di ujung atas vaginanya dan kini ia mempermainkan klitorisnya yang telah mengacung keras penuh birahi itu dengan ujung jarinya, sementara sebelah tangannya naik kembali meraba-raba puting mungilnya. “Ohh.. ohh.. ohh.. mmhh..” Fani sedikit membuka matanya yang terpejam untuk melihat Iroh menggigit bibir sambil kedua tangannya meremas-remas ujung roknya, sementara kedua pahanya dirapatkan dan saling bergesek-gesek, tanda ia sendiri sudah mulai terangsang dengan pemandangan di depannya ini, dan mungkin ditambah dengan khayalan di benaknya sendiri. Pemandangan itu membuat Fani semakin terangsang dan mulai semakin liar menggesek-gesek klitoris dan vaginanya, sementara tangan satunya mulai meremas-remas buah dadanya dengan kasar. Desah dan rintihan pun mulai semakin sering terlepas dari bibir mungilnya.

“Ngh.. ngh.. ngh.. ohh.. ohh.. ngh.. ngh..” di antara keliaran gesekan jari dan remasan tangannya, dengan birahi yang mulai meledak-ledak, Fani memasukkan jarinya yang telah dibasahi lendir gairah ke dalam mulutnya, menghisap lendir hangat itu dengan penuh kenikmatan, lalu kembali digesek-gesekkan pada vaginanya. Terus Fani mengulangi itu berkali-kali, sementara aliran air hangat meleleh dari kepala melewati dadanya yang terus diremas-remas dengan liar, turun ke vaginanya yang merekah mendapatkan serangan rangsangan hebat dari jarinya.

Semakin liar dan bernafsu, Fani kini menggunakan dua jari untuk menjepit klitorisnya dari atas sambil kedua jarinya itu menggesek-gesek vaginanya yang telah melelehkan lendir panas, sementara tubuhnya mulai bergelinjang tak terkendali dan mulutnya semakin liar merintih dan mendesah. “Ngghh.. gghh.. ohh.. ohh.. Mbak.. Mbak.. Mbakk.. ohh..” Rangsangan dan kenikmatan gairah pada tubuh Fani mulai merebak mencapai klimaksnya. Dengan tubuh bergelinjang semakin liar dan gesekan jari pada vagina yang juga semakin kasar dan bernafsu, serta remasan pada buah dadanya yang juga semakin kasar dan liar, Fani merasakan setruman rangsangan penuh kenikmatan merebak dari vaginanya ke seluruh penjuru tubuhnya secara perlahan namun terasa tak kunjung berakhir. Iroh melotot tegang dengan tubuh panas-dingin melihat Fani menggelinjang hebat. “Ahh.. ahh.. ahh.. ahh!” Fani menjerit-jerit tak terkendali merasakan kenikmatan puncak yang walaupun sebenarnya hanya berlangsung beberapa detik ini, namun terasa seperti berjam-jam meledak-ledak dalam dirinya, sementara kedua tangannya dengan kasar meremas vagina dan buah dadanya yang menjadi pusat kenikmatan terhebat yang pernah ia rasakan selama hidupnya ini.

“Gggaahh..” Dengan lenguhan terakhirnya, Fani melepas ledakan orgasme yang membuat seluruh tubuhnya lemas bagai tak bertulang, lalu ia pun menggelosor di bathtub, duduk telanjang dengan mata terpejam penuh kenikmatan sementara air hangat masih terus mengucur menyiram tubuhnya.

Iroh menghela nafas panjang disusul nafas yang terengah-engah setelah menyaksikan klimaks yang dinikmati majikannya. Tak terasa, ternyata Iroh pun banyak menahan nafas selama pertunjukan nakal penuh gairah ini digelar oleh Fani. “Mbak, tolong ambilin handuk dong,” pinta Fani pelan dan lembut di sela nafasnya yang juga tersengal-sengal. Iroh langsung melesat keluar, selain ingin mengambil handuk, juga sangat membutuhkan udara segar untuk paru-parunya yang terasa penuh kabut.

Fani menyelesaikan mandinya, lalu mengeringkan badan dengan handuk. Dengan tubuh dibalut handuk, Fani keluar kamar mandi dan menghampiri Iroh yang masih duduk saja di meja makan, kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Fani mengecup pipi Iroh, lalu tersenyum. “Makasih ya, Mbak Iroh, udah nemenin Fani. Kapan-kapan lagi ya?” tukas Fani ceria, seakan itu hanya kejadian biasa yang setiap hari bisa terjadi di setiap keluarga normal. Iroh hanya bisa mengangguk dan Fani berlenggok meninggalkannya dengan perasaan puas dan ringan.

Diantara empat sekawan geng-ku mungkin yang belum banyak diketahui pembaca adalah Ratna, aku memang belum sempat menuliskan pengalaman-pengalaman kami bersamanya. Ratna ini orangnya paling kalem diantara kami, juga paling pintar dalam pelajaran. Dibanding kami bertiga yang masih sendiri atau sering gonta-ganti pacar, perjalanan cintanya adalah yang paling mulus, cowoknya seorang liberal sehingga sehingga membiarkannya bebas bertualang dengan cowok lain, asalkan hatinya tetap untuknya, begitu kata cowoknya yang juga pernah terlibat ML denganku itu.

Dia mempunyai tubuh langsing dengan payudara sedang, berambut hitam sebahu. Wajahnya bersih serta bermata bening dan berbibir indah, membuat setiap pria terkesima oleh pesonanya. Karena lebih banyak menghabiskan waktu dengan pacarnya, kebersamaannya denganku lebih sedikit dibanding dua temanku lainnya.

Hari itu kami rencananya akan clubbing, sebelumnya aku harus menjemput Ratna dulu di rumahnya baru ke rumah Verna yang tidak terlalu jauh dari sana, barulah berangkat bareng dengan mobilnya Verna. Aku sampai ke rumah Ratna terlalu pagi agaknya, baru jam setengah delapan malam. Setiba di sana aku disambut mamanya yang mengatakan kalau Ratna sedang mandi, beliau mempersilakanku langsung saja ke kamarnya di lantai tiga.

“Hai, Ci, masuk aja dulu, gua belum beres nih!” ajaknya saat membuka pintu.

Jelas sekali dia baru mandi karena rambutnya basah dan cuma memakai handuk hijau yang melilit di tubuhnya.

“Walah, lu baru mandi lu malam gini!” kataku.
“Hehehe.. Tadi ketiduran lama abis nonton film, ya sekalian isi tenaga buat nanti lah!” jawabnya.

Dia duduk di ranjang dan mengoleskan body lotion pada pahanya, dipersilahkannya aku duduk di sebelahnya. Kuperhatikan tubuh montoknya yang cuma terbalut handuk dengan kulit putih mulus, kaki kanannya yang sedang diolesi lotion ditekuk sehingga memancarkan keindahannya.

“Ikutan Amway (salah satu usaha MLM) lu Na? Bukannya biasa lu pake Bodyshop?” tanyaku merujuk pada body lotion itu.
“Nggak, itu saudara gua nawar-nawarin terus sih, jadi aja gua beli deh, lumayan mahal loh!”
“Bagus nggak tapi?”
“Ya gitulah, kata gua sih nggak beda jauh, cuma bantuin saudara gua nambah poin aja sih,” jawabnya, “Nih.. Coba aja sama lu sini!” seraya menawarkannya padaku

Aku menjulurkan telapak tangan menerima sedikit cairan itu, lantas kuoleskan pada lengan dan betisku yang terbuka karena saat itu memakai celana jeans ketat sepanjang lutut.

“Ci, bisa tolong gosokin ke punggung sekalian nggak?” pintanya sambil melepas handuk yang membelit tubuhnya sehingga terlihatlah tubuh telanjang dibaliknya.

Ratna merebahkan tubuhnya tengkurap dan menaruh kepalanya pada kedua lengannya yang dilipat. Mulailah aku menggosok punggungnya, perlahan sambil memijat. Dia senyum-senyum kecil sambil dan memuji pijatanku yang katanya enak dan lembut.

“Eemmhh.. Enak Ci, kaya di salon aja, lu emang bakat mijat deh!”
“Enak aja.. Gua disamain tukang pijat, iihh!” kataku sambil menepuk pelan pantat montoknya.
“Aw.. Genit ah lu, tepuk-tepuk pantat segala” sambil tertawa cekikikan.

Mumpung tanganku sudah mendarat di pantatnya dan cairan itu masih tersisa sedikit ditanganku, akupun sekalian memijati pantatnya.

“Disini sekalian dioles juga yah, tanggung nih dikit lagi, sayang kan mahal-mahal mubazir” saranku yang lalu diiyakannya.

Ketika mengurut bongkahan pantatnya terdengar olehku dia mendesis pelan dan tubuhnya sedikit bergetar. Melihat reaksinya, iseng-iseng aku menyusupkan tanganku ke paha dalam lalu merambat perlahan ke pangkalnya.

“Oohh.. Ci!!” desisnya makin jelas begitu daerah sensitif itu kusentuh.

Entah secara disadari atau tidak, dia merenggangkan kedua pahanya seolah minta lebih. Karena dia menikmati yang kulakukan, akupun mulai horny dan terdorong meneruskan lebih jauh lagi.

Pinggiran vaginanya kuusapi dan sedikit demi sedikit jari tengah dan telunjukku mulai masuk ke lubang kemaluannya. Jempolku kususupi ke anusnya diiringi desahannya, oohh..! Baik aku maupun dia makin terangsang saja dengan suasana seperti ini. Tanganku yang sudah basah oleh body lotion jadi tambah basah bercampur dengan air kewanitaan Ratna. Sekitar sepuluh menit jari-jariku bermain pada anus dan vaginanya hingga akhirnya dia menggelinjang dan mendesah mencapai orgasmenya. Dua menit kemudian dia bangkit duduk di ranjang dan menatapku dengan senyum manis.

“Ok, sekarang giliran lu Ci” katanya.

Akupun mulai melepas tank-top dan BH-ku sehingga aku topless sekarang.

“Wah, tambah seksi aja lu Ci” sahutnya sambil memencet payudaraku.
“Sama lu juga, pantesan si Samuel betah sama lu” jawabku sambil balas mencubit putingnya.

Kami saling meraba payudara, pelan-pelan wajah kami semakin dekat, hidungku bertemu hidungnya. Hembusan nafas Ratna yang sudah memburu terasa di wajahku. Kulingkarkan tanganku pada lehernya dan bibir kami mulai saling mendekat hingga bertemu.

Aku mengeluarkan lidah menjilati bibirnya, dia juga ikut mengeluarkan lidahnya membalas perbuatanku. Lidah kami menari-nari dalam mulut pasangan masing-masing. Tangannya yang lembut membelai punggungku menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Demikian pula halnya tanganku turut mengelus punggungnya, sementara tangan kananku meremas payudaranya sambil memilin-milin putingnya, puting itu makin mengeras karena terus kumain-mainkan. Tanpa melepas ciuman, kudorong tubuhku de depan sehingga menindihnya. Ciuman kami semakin hot seiring dengan gairah yang makin membara dalam diri kami. Suara-suara kecupan bercampur dengan erangan tertahan dan nafas kami yang makin menderu.

Tiba-tiba Ratna mendorong tubuhku dan berguling ke samping, kini posisi kami bertukar menjadi dia yang menindihku. Tangannya dengan sigap membuka sabukku dan memerosotkan celanaku berserta celana dalam dibaliknya. Aku turut menggerakkan kakiku membantu celana itu lepas dari tubuhku. Ratna melemparkan celana dan celana dalamku ke kursi rias yang tak jauh dari sini. Kembali dia menindihku hingga payudara kami saling menghimpit. Setengah menit kami berpelukan erat dengan mata saling tatap, kemudian kurasakan suatu gesekan pada bibir vaginaku yang membuatku mendesah secara refleks.

Ternyata Ratna mengelus vaginaku dengan pahanya. Aku membuka pahaku lebih lebar agar klitorisku juga merasakan belaian lembut itu. Gesekan itu membuatku menggelinjang, belum lagi sekarang Ratna sudah mulai menciumi telingaku. Hembusan nafas ditambah permainan lidahnya pada lubang dan daun telingaku menghanyutkanku lebih dalam.

“Eemmhh.. Nana.. Mm!” desahku dengan mata terpejam.
“Servis gua ok kan” katanya berbisik di telingaku.

Ciumannya merambat turun ke leherku, ssrr.. Lidahnya menyapu telak leher jenjangku disusul gigitan pelan dan cupangan yang dilakukannya dengan lembut dan mesra. Tangan kirinya menangkap payudaraku dan meremasnya lembut, jari-jarinya yang lentik menyentil-nyentil putingku hingga membuatnya makin tegang. Dari leher mulutnya turun lagi ke dadaku, lidahnya menjilati putingku yang kanan sementara tangan kirinya tetap memijat payudara kiriku.

“Terus Na.. Give me more!” kataku sambil menekan kepalanya karena tidak puas hanya dengan dijilati saja.

Tubuhku bergetar hebat merasakan payudaraku dikenyot dan diremas olehnya.

Tangan kanannya kini bercokol di kemaluanku menggantikan pahanya, jarinya membelai lembut diantara kerimbunan bulu-bulu kemaluanku. Dua jari lainnya masuk ke dalam dan mengelus-elus dinding vaginaku sekaligus mencari klitorisku. Ketika menemukan titik rangsangan itu, semakin gencarlah dia memainkan benda itu sehingga tubuhku makin tak terkendali dengan mendesah dan menggeliat-geliat. Butir-butir keringat seperti embun sudah membasahi dahiku dan wajahku makin merah menandakan betapa terangsangnya aku. Kugerakkan tanganku ke bawah meraih payudaranya dan meremasinya sebagai respon perbuatannya.

Jilatan Ratna turun lagi ke pusar yang dia jilati sebentar membuatku tertawa kecil karena geli, kemudian turun lagi mencapai vaginaku. Diperhatikannya sejenak kemaluanku sambil mengelus bulunya yang lebat. Kedua jarinya membuka bibir vaginaku sehingga udara dingin dari AC menerpanya. Darahku makin bergolak ketika dia mulai membenamkan wajahnya ke daerah itu. Aahh.. Desisku begitu lidahnya menyentuh bibir vaginaku.

“Na.. Eenngghh.. Di situ.. Terus!” aku menggeliat merasakan lidah Ratna bergerak liar seperti ular merangsang setiap titik peka pada vaginaku. Sebagai seorang wanita, dia tahu betul bagaimana memanjakan tubuh wanita secara seksual.

Aku sungguh menikmati permainan oralnya. Kedua pahaku merapat mengapit kepalanya menahan rasa geli. Otomatis pinggulku ikut bergoyang akibat rangsangan itu, Ratna memegangi pinggulku untuk menahan guncangan agar tak terlalu keras. Birahiku pun makin memuncak yang berakibat tubuhku menggelinjang hebat. Akhirnya sebuah erangan panjang menandai orgasmeku, tubuhku mengejang dengan tangan kiri meremas payudaraku sendiri dan tangan kananku menekan kepalanya lebih terbenam lagi di selangkanganku. Aku merasakan vaginaku dihisap-hisap kuat olehnya, melahap setiap tetes cairan yang terus mengalir dari sana.

“Oohh.. Nana.. Bitch.. Aahh.. Akh!” erangku dengan mata merem-melek sambil meremas rambutnya.

Lalu Ratna pun mengangkat wajahnya dan kembali naik ke tubuhku, pada mulutnya yang belepotan cairan kewanitaanku itu tersungging sebuah senyum.

“Love it?” tanyanya dekat wajahku.

Aku cuma mengangguk dengan nafas masih kacau. Diciumnya bibirku dan kubalas dengan tak kalah bernafsu. Aroma vaginaku masih terasa tajam pada mulutnya, kami ber-French kiss sambil menikmati sisa-sisa cairan kemaluanku.

Setelah tenagaku terkumpul aku mencoba membalikkan tubuhnya hingga dia telentang di sebelahku. Kubelai rambut dan wajahnya sambil mendekatkan wajahku padanya. Putingnya yang terjepit diantara jariku kupencet dan kuplintir menyebabkan dia mendesah, saat itulah aku mencium bibirnya yang terbuka. Lidahnya kukulum dalam mulutku sambil menggerayangi payudaranya. Ratna menggeliat-geliat saat lehernya merasakan jilatan dan cupanganku, di saat yang sama tanganku sibuk memilin-milin kedua putingnya yang sudah keras. Dalam keadaan birahi tinggi seperti itu secara tidak sengaja, tangannya yang tadinya cuma mengelus punggung, tiba-tiba mencakarku.

“Aduh-duh.. Hati-hati dong Na, sakit tau, udah tau kuku panjang gitu!” protesku.
“Eehh.. Sory Ci, sory banget, habis lagi tegangan tinggi sih, cuma lecet dikit kan nggak akan berbekas!”
“Awas ya, gua bales nih!” puting kanannya kugigit agak keras sambil meremas payudaranya.
“Aakkhh.. Ci.. Pelan-pelan!” erangnya dengan tubuh mengejang.

Erangannya justru membuatku makin bergairah mengenyot kedua payudaranya secara bergantian. Selanjutnya aku mulai melakukan mandi kucing terhadapnya. Leher dan pundaknya kusapu dengan lidah, kedua tangannya kurentangkan ke atas sehingga aku bisa menjilati ketiaknya yang bebas bulu.

“Oohh.. Ampun Ci.. Geli..!” desahnya bercampur tawa kegelian, tubuhnya pun terhentak-hentak.

Aku terus menjilati ke bagian dada, perut, hingga sampai pada kemaluannya. Bulu-bulunya agak jarang, tidak selebat milikku, serta bentuknya dicukur rapih. Tanpa buang waktu lagi aku langsung menjilati belahannya dan menggesek-gesek klitorisnya dengan jariku, perbuatanku ini spontan membuatnya menggelinjang hebat.

“Aahh.. Gila.. Uuhh.. Uhh.. Disitu enak Ci!” demikian desah Ratna.

Lidahku menyusup lebih dalam menjilati dinding kemaluan dan klitorisnya, semakin kujilat semakin basah daerah itu. Klitorisnya kutangkap dengan mulut dan kuhisap sehingga pemiliknya makin berkelejotan tak karuan.

“Ci.. Citra, udah.. Gua keluar!” erangnya lebih panjang seiring dengan mengejangnya tubuhnya.

Cairan yang keluar dari kemaluannya semakin banyak serta merta kujilati dengan nikmat.

Ratna kembali melemas sementara aku masih saja menjilati tubuhnya sampai 2-3 menit ke depan. Akhirnya kamipun tergolek bersebelahan, beristirahat sejenak dengan obrolan dan canda ringan. Tiba-tiba HP Ratna berbunyi.

“Iya-iya, ntar lagi kita berangkat kok.. Udah Citra dah datang dari tadi, tunggu ya!” kata Ratna menjawab HP-nya.
“Verna tuh, udah ngomel-ngomel, yuk siap-siap!” katanya lagi setelah menutup HP.

Kamipun bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh dengan handuk basah. Ratna berdandan dengan terburu-buru sampai hampir lupa meresleting bajunya.

“Ya ampun Na, dari tadi pintu nggak dikunci yah, gimana kalo ada yang kesini?” seruku ketika mau membuka pintu.
“Ups, lupa.. Heheh.. Rasanya sih nggak, cuma ada nyokap di bawah, untung si Vina (adiknya) lagi keluar, yuk let’s go!” dia menarik lenganku dan melangkah ke bawah dengan cepat.

Setelah pamitan pada mamanya, kamipun berangkat untuk menikmati hiburan malam.

Senang sekali rasanya sekolahku dipulangkan lebih awal dari biasanya karena guru-guru akan mengadakan pertemuan dengan wali murid kelas 1. Aku sendiri sudah kelas 2. Jam tangan yang kupakai menunjukkan pukul sepuluh tepat. Ingin segera kulahap habis novel serial Agatha Christie yang baru kupinjam dari Rina, teman sekelasku. Aku cepat-cepat pulang. Berbeda dengan beberapa temanku yang berencana untuk keluyuran di Malioboro. Aku sendiri nggak suka keluyuran dengan seragam sekolah.

Akhirnya aku sampai di rumahku di sebuah kawasan perumahan elit. Aku hanya bisa menyebutkan bahwa nomor rumahku adalah nomor 6 atau 9. Kenapa begitu. Kadang ada orang iseng yang membalik papan nomor rumahku yang kebetulan dibuat oleh papaku dan dipasang di pintu pagar. Nomor rumah yang tidak bisa diubah adalah yang terpasang di tembok samping pintu. Hanya kecil.

Rumahku terletak di pojok barat daya sehingga pintunya ada dua. Pintu yang menghadap selatan adalah pintu pagar kecil selebar sekitar satu meter yang disampingnya dipasangi saklar untuk bel yang terkadang rewel. Sedangkan pintu yang menghadap barat adalah pintu pagar selebar 3 meter yang berhubungan dengan garasi yang letaknya 5 meter di depannya.

Di carport depan garasi telah ada sebuah Suzuki Karimun abu-abu milik kakakku, Mbak Sari. Itu berarti kakakku yang kuliah semester 6 pada suatu PTN di Bandung sedang pulang. Aku punya kakak satu lagi. Mas Wawan namanya. Dia duduk di kelas 3 pada sebuah SMU unggulan di Yogyakarta. Karena prestasinya dia dikirim ke program pertukaran pelajar ke Australia.

Aku biasa masuk dari pintu pagar besar ini. Lalu aku masuk rumah melalui garasi yang terbuat dari kayu. Setiap rumahku kosong, hanya pintu garasi yang dikunci dari luar dan kuncinya di sembunyikan pada suatu tempat yang aman di halaman rumah. Hanya penghuni rumahku saja yang tahu tempat itu.

Ruang garasi kosong melompong. Honda Civic hitam yang biasa dibawa Mamaku ke kantornya di sebuah instansi pemerintahan provinsi DIY tidak ada. Papaku sendiri bekerja di Semarang dan hanya seminggu sekali pulang. Tidak ada pembantu di rumahku. Karena hanya aku dan Mamaku yang tinggal sehingga tidak begitu repot dalam mengurus rumah.

Aku lalu masuk ke ruang keluarga yang terdapat tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai atas. Dari ruang ini kudengar suara-suara yang aneh dari lantai atas, pelan-pelan aku naiki anak tangga satu-persatu. Lima anak tangga lagi aku sudah sampai di lantai atas. Dari situ aku sudah bisa melihat sumber dari suara-suara yang aneh itu.

Maaf. Kutahan dulu rasa penasaran pembaca 17Tahun. Aku lupa belum memperkenalkan diri. Namaku Eka Susanti dan biasa dipanggil Santi. Aku masih sekolah di sebuah SMP favorit di kawasan Yogyakarta bagian utara. Mungkin hanya itu saja dulu salam perkenalan dariku. Bagi yang ingin berkenalan lebih lanjut bisa mengirim mail kepadaku.

Sekarang kulanjutkan ceritanya kembali. Ternyata suara-suara aneh itu bersumber dari sesuatu yang tidak kuduga sebelumnya. Mamaku yang berusia 48 tahun dan Mbak Sari bergumul dengan hebatnya di atas lantai. Tubuh mereka berdua berkeringat. Kedua pakaian yang mereka berdua pakai sudah lepas dari tubuh mereka kecuali celana dalam dan Mamaku yang masih memakai bra. Kedua pakaian mereka berdua berserakan di lantai.

Aku lalu duduk di tangga dan menyaksikan adegan demi adegan. Sekarang ini Mamaku berada di bawah. Kedua kakinya ditekuk pada lututnya. Sedangkan Mbak Sari duduk di bawah perut Mamaku. Tubuhnya miring ke belakang dan bertumpu pada kedua kaki Mamaku yang ditekuk. Kedua tangan mereka berdua saling berpegangan. Keduanya saling tersenyum dan tidak sadar dengan kehadiran diriku ini.

Lalu Mbak Sari menarik kedua tangan Mamaku. Kedua lalu setengah berdiri dengan kedua kaki ke belakang dan memakai lutut sebagai tumpuan. Mbak Sari dengan perlahan melepas bra yang masih dipakai Mamaku. Sedangkan kedua tangan Mamaku merangkul leher Mbak Sari. Mbak Sari juga merangkul leher Mamaku sehingga kedua payudara mereka berdua saling menempel. Mbak Sari dan Mamaku lalu saling menggesekkan kedua payudara mereka berdua.

“Aaagghh..” Desah mereka berdua.

Beberapa saat kemudian Mamaku pada posisi merangkak. Sedangkan Mbak Sari yang duduk di belakang Mamaku dengan perlahan melepas celana dalam yang dipakai Mamaku. Ketika celana dalam yang dipakai Mamaku sudah turun sampai bawah paha, Mbak Sari menjilati pantat Mamaku dengan lidahnya sambil tetap melepas celana dalam Mamaku. Mamaku hanya bisa mendongakkan kepalanya ke atas.

“Aaahh..” Desah Mamaku.

Celana dalam Mamaku telah terlepas. Tetapi Mbak Sari masih tetap menjilati pantat Mamaku dan sesekali kedua tangannya bergantian membelai paha Mamaku bagian belakang. Mamaku tidak tahan dengan perlakuan Mbak Sari. Mamaku kemudian membalikkan tubuhnya. Kedua kakinya ditekuk dan dikangkangkan. Vaginanya tampak sudah mulai basah dengan cairan-cairan kenikmatan.

“Aaahh..” Mamaku kembali mendesah.

Mbak Sari membungkukkan tubuhnya dan dijilatinya cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari dalam vagina Mamaku dengan lidahnya. Kedua tangannya juga melepas celana dalam yang dipakainya. Mamaku semakin tidak tahan. Tetapi kedua tangannya membenamkan kepala Mbak Sari ke vaginanya. Sesekali tangan Mamaku meremas- remas sendiri kedua payudaranya bergantian.

“Aaahh..” Jerit Mamaku.

Jeritan Mamaku semakin keras ketika jari tengah tangan kanan Mbak Sari keluar masuk vagina Mamaku yang semakin banjir dengan cairan-cairan kenikmatan. Sedangkan jari tengah tangan kiri Mbak Sari mengocok sendiri vaginanya yang juga banjir dengan cairan-cairan kenikmatan.

Persetubuhan Mamaku dengan Mbak Sari semakin memanas. Mbak Sari duduk bawah perut Mamaku dengan membelakangi Mamaku. Diangkatnya kedua kaki Mamaku ke atas. Vaginanya yang basah cairan-cairan kenikmatan digesekkan ke vagina Mamaku yang juga basah cairan-cairan kenikmatan. Kepala Mbak Sari sesekali mendongak ke atas seiring dengan goyangan pantat Mbak Sari ketika vaginanya saling bergesekan dengan vagina Mamaku yang sama-sama semakin banyak mengeluarkan cairan kenikmatan. Kedua tangan Mbak Sari dan juga kedua tangan Mamaku meremas-remas sendiri kedua payudaranya. Keduanya juga sama-sama mendesah.

“Aaahh..”

Beberapa menit kemudian Mbak Sari menggeser tubuhnya ke belakang. Mbak Sari lalu menjilati cairan-cairan kenikmatan yang membasahi vagina Mamaku dengan lidahnya. Begitu juga dengan Mamaku. Vagina Mbak Sari tepat berada di atas mulut Mamaku. Dengan leluasa Mamaku menjilati cairan-cairan kenikmatan yang membasahi vagina Mbak Sari.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Persetubuhan mereka berdua sudah berakhir. Mereka hanya saling berpelukan sambil sesekali saling membelai beberapa bagian tubuh. Keadaanku sendiri sudah tidak karuan lagi. Aku sendiri tidak sadar bahwa ketika melihat Mamaku dan Mbak Sari bersetubuh, aku juga seolah-olah juga mengalaminya.

Awalnya aku meremas-remas sendiri kedua payudaraku yang berukuran 32 dari luar pakaian seragam sekolahku. Lalu perlahan kubuka kancing baju seragam sekolahku. Kunaikkan kaos dalam dan miniset yang kupakai sehingga bisa kuremas secara langsung kedua payudaraku yang semakin mengeras dengan tangan kiriku secara bergantian. Sedangkan rok seragam sekolahku sudah tersingkap ke atas. Celana dalam yang kupakai sudah turun sampai sebatas lutut. Jari tengah tangan kananku keluar masuk vaginaku yang juga basah oleh cairan-cairan kenikmatan.

Sejak awal aku melihat persetubuhan Mamaku dengan Mbak Sari, aku berusaha menahan suara desahan yang keluar dari mulutku agar tidak bisa di dengar mereka. Tapi begitu mereka berdua selesai, aku sudah tidak kuat lagi menahan seiring dengan semakin kuatnya jari tengah tangan kananku dalam mengocok vaginaku yang cairan-cairan kenikmatannya semakin banyak keluar.

“Aaahh..”

Keluarlah jeritan panjang dari mulutku. Kulihat reaksi mereka berdua. Mereka melonggarkan pelukan. Dari wajah mereka berdua tidak kulihat ekspresi keterkejutan. Hanya Mamaku saja yang agak terkejut dan segera menyambar sebuah pakaian entah miliknya sendiri atau milik Mbak Sari untuk menutupi tubuhnya.

Tidak begitu dengan Mbak Sari yang berdiri sambil tersenyum kepadaku. Tubuhnya yang telanjang dan basah karena keringat menghampiriku dan membimbingku untuk berdiri. Agak susah juga untuk berdiri. Jari tengah tangan kananku masih berada di dalam vaginaku. Akhirnya aku bisa berdiri dan kukeluarkan juga jari tengah tangan kananku. Kurangkul tubuh Mbak Sari.

“Kok aku nggak diajak sih, Mbak?” Kataku sambil mengusap payudara kanannya yang berkeringat dengan tangan kananku dengan harapan Mbak Sari terangsang kembali.
Ternyata Mbak Sari tidak terangsang. Didudukkannya aku ke kursi dan Mbak Sari sendiri duduk di atas lantai sambil memakai kembali pakaiannya.

“Maafkan Mbak. Mbak nggak tahu kamu telah pulang. Dan juga sebetulnya Mbak nggak ingin kamu melihat apa yang telah dilakukan Mbak dan Mama,” kata Mbak Sari sambil membenahi pakaianku.

Kulihat juga Mamaku telah berganti pakaian dengan pakaian rumah.

“Cukup hanya Mama yang jadi korban perilaku Mbak. Kamu jangan sampai.” Lanjut Mbak Sari.

“Sebetulnya waktu itu Mama yang salah.” Kata Mamaku yang sedari tadi diam.

*****

Peristiwa itu terjadi sekitar setahun yang lalu. Waktu itu hari Minggu. Rencana sekeluarga akan pergi ke Parangtritis. Ternyata Mamaku mengeluh kecapekan. Mamaku minta kami berempat saja yang pergi. Mbak Sari kasihan meninggalkan Mamaku sendirian. Sehingga hanya aku, papaku dan Mas wawan yang pergi ke Parangtritis.

“Sar.. Kamu bisa mijit nggak?” Kata Mamaku setelah kami bertiga meninggalkan rumah.

“Bisa.” Jawab Mbak Sari.

Kemudian Mamaku masuk ke kamar diikuti Mbak Sari. Mamaku lalu melepas dasternya dan naik ke atas tempat tidur hanya dengan memakai pakaian dalam. Darah Mbak Sari berdesir melihat kondisi Mamaku yang setengah telanjang. Biasanya Mbak Sari tidak merasakan hal-hal yang aneh ketika melihat mm sendiri setengah telanjang.

Tetapi kali ini lain. Mbak Sari jadi teringat teman lesbinya di Bandung. Ditambah lagi dengan tubuh Mamaku yang masih kelihatan seperti seusia sebaya dengan Mbak Sari karena rajin fitness. Mbak Sari berusaha menghilangkan pikirannya yang aneh-aneh.

“Ayo cepat.” Kata Mamaku yang telungkup di atas tempat tidur sambil membaca majalah.

Mamaku tidak melihat Mbak Sari yang melepas juga dasternya. Mbak Sari semakin terangsang dan tidak bisa menghilangkan pikirannya yang aneh-aneh. Mbak Sari lalu menduduki pantat Mamaku. Darah Mbak Sari semakin mendesir.

“Branya dibuka saja ya mam?” Kata Mbak Sari lirih.

Mamaku hanya mengangguk. Mbak Sari kemudian membuka pengait bra Mamaku. Kedua tangannya lalu bergerak dari punggung bagian bawah sampai punggung bagian atas. Mbak Sari berusaha serius untuk memijit Mamaku. Tetapi tidak bisa. Tanpa sadar kedua tangannya bergerak ke bawah dan setengah meremas kedua payudara Mamaku.

“Eeehh.. Apa-apaan kamu Sar?” Kata Mamaku agak keras.
“Maaf mam.” Kata Mbak Sari sambil menghentikan remasannya.

Kedua tangannya pindah meremas kedua pundak Mamaku. Nafsunya hilang.

“Tapi enak juga. Teruskan yang tadi Sar.” Perintah Mamaku.

Mbak Sari merasa mendapat angin. Nafsu Mbak Sari timbul lagi. Bahkan semakin menjadi. Mbak Sari melepas bra yang dipakainya. Kemudian kedua payudaranya digesekkan ke punggung Mamaku. Selama beberapa menit Mbak Sari melakukan hal tersebut.

“Hhhmm..” Desah Mamaku.

Mbak Sari kemudian berhenti dalam menggesekkan kedua payudaranya ke punggung Mamaku. Mbak Sari membalikkan tubuhnya dan setengah terlentang di belakang Mamaku yang juga kemudian terlentang. Mbak Sari melepas celana dalamnya. Tampak sekali bahwa vagina sudah sedikit basah oleh cairan-cairan kenikmatan. Begitu juga dengan Mamaku. Celana dalamnya tampak basah oleh cairan-cairan kenikmatan.

Mbak Sari lalu mendekati Mamaku dan melepas celana dalam yang dipakai Mamaku. Tangannya kemudian membelai vagina Mamaku. Dijilatinya cairan-cairan kenikmatan pada vagina Mamaku dengan lidahnya sambil tangan kanannya membelai paha kiri Mamaku. Sedangkan tangan kirinya meremas-remas payudara kanan Mamaku. Pada waktu itu Mamaku juga meremas payudara kirinya sendiri dengan tangan kirinya. Tangan kanannya meremas sprei tempat tidur. Kepala Mamaku sesekali mendongak ke atas ketika Mbak Sari lebih dalam lagi dalam menjilat vagina Mamaku.

“Aaahh..” Desah Mamaku.

Beberapa saat kemudian lidah Mbak Sari semakin naik ke atas. Dijilatinya pusar Mamaku sambil jari tengah tangan kanannya mengocok vagina Mamaku supaya cairan-cairan kenikmatan semakin banyak keluar. Sedangkan tangan kirinya bergantian meremas-remas kedua payudara Mamaku berebutan dengan kedua tangan Mamaku.

“Aaahh..” Desah Mamaku lagi.

Lidah Mbak Sari naik ke atas lagi dan menghisap payudara kiri Mamaku. Membuat punggung Mamaku naik ke atas. Kedua tangannya membelai kedua pahanya sendiri. Kedua tangan Mbak Sari lalu memegang kedua tangan Mamaku. Ganti payudara kanan Mamaku dihisap oleh Mbak Sari.

Mbak Sari kembali turun ke bawah. Puting kedua payudaranya digesekkan bergantian ke kelentit Mamaku. Mamaku hanya bisa meremas-remas sendiri kedua payudaranya bergantian. Cairan-cairan kenikmatan semakin banyak keluar dan menempel di kedua puting payudara Mbak Sari.

“Aaahh..” Desah Mamaku.

Kemudian Mbak Sari membalikkan tubuhnya. Tubuhnya berlawanan dengan tubuh Mamaku. Dijilatinya vagina Mamaku yang semakin banjir oleh cairan-cairan kenikmatan dengan lidahnya. Diangkatnya pantatnya dan vaginanya yang sudah basah sejak memijit Mamaku tepat berada di atas mulut Mamaku yang langsung juga menjilati vagina Mbak Sari dengan lidahnya. Sesekali Mbak Sari juga menggesekkan kedua puting payudaranya bergantian ke kelentit Mamaku.

“Sejak saat itu Mbak dan Mama sering melakukannya setiap ada kesempatan.” Kata Mbak Sari mengakhiri ceritanya.

“Terkadang Mama juga bohong sama kamu kalau ada tugas keluar kota. Padahal cuma ke Bandung.” Tambah Mamaku setengah tersenyum.

“Termasuk hari ini. Karena teman lesbi Mbak pulang kampung dan Mbak nggak kuat lagi. Ya pulang deh.”

“Langsung ke kantor Mama. Jemput Mama. Padahal ada rapat penting.”

“Terus kok Mama mau aja?” Tanyaku.

“Papamu kan minggu lalu nggak pulang. Jadi Mama semangat diajak pulang sama Sari.”

“Jadi pingin nih.” Kataku.

“Jangan..” teriak Mamaku dan Mbak Sari hampir bersamaan.

“Cukup Mamaku dan Sari saja yang menjalani perilaku aneh ini. Kamu masih muda. Hiduplah yang normal.” Nasehat Mamaku yang dibenarkan oleh anggukan Mbak Sari.

“Ayoo dong Mam, Mbak.” Kataku sambil mulai membuka kembali satu persatu kancing bajuku.

Mamaku dan Mbak Sari terdiam beberapa saat. Lalu.

“Baiklah. Sekali ini saja ya?” Kata Mbak Sari yang kemudian melepas semua pakaiannya.

“Jangan Sar.” Cegah Mamaku.

Terlambat. Mbak Sari telah menarikku masuk ke dalam kamarnya. Mamaku juga mengikuti kami. Awalnya Mamaku hanya melihat saja bagaimana Mbak Sari yang telah telanjang melucuti semua pakaianku tanpa tersisa. Mamaku tak tahan juga dan melepas semua pakaiannya. Jarum jam dinding di kamar Mbak Sari menunjukkan pukul duabelas tepat.

Dari samping kiriku, tangan kanan Mbak Sari meremas-remas payudara kiriku dan menjilati puting payudara kiriku dengan lidahnya. Tangan kirinya membelai vaginaku. Sedangkan Mamaku dari samping kanan juga meremas-remas payudara kananku dengan tangan kanannya dan tidak lupa juga menjilati puting payudara kananku dengan lidahnya. Tangan kirinya meremas-remas pantatku.

“Aaahh..” Desahku.

Lalu jari tengah tangan kiri Mbak Sari mengocok vaginaku. Mamaku jongkok dan dengan lidahnya dijilatinya vaginaku yang sudah mulai mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan. Mbak Sari mengikuti Mamaku dan juga menjilati vaginaku dengan lidahnya. Aku hanya bisa memilin-milin kedua puting payudaraku bergantian dengan tangan kiriku. Sedangkan tangan kananku berpegangan pada pinggir lemari untuk menyangga tubuhku yang agak lemas.

“Aaahh..” Aku kembali mendesah.

Kemudian Mamaku duduk dan langsung menjilati cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari dalam vaginaku dengan lidahnya. Aku yang semakin lemas nyaris terjatuh. Mbak Sari berdiri dan tangan kanannya menyangga pantatku. Sedangkan jari tengah tangan kirinya masih mengocok vaginaku dan dihisapnya juga payudara kiriku. Tangan kananku sesekali membelai vaginaku dan tangan kiriku kurangkulkan pada leher Mbak Sari sambil sesekali juga kubelai payudara kirinya.

“Aaahh..” Desahku tidak karuan karena tak tahan dengan perlakuan Mamaku dan Mbak Sari.

Di bawah Mamaku juga tak tahan. Tangan kirinya yang tadi membelai kedua pahaku, sekarang membelai vaginanya sendiri yang juga mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan. Jari tengah tangan kirinya mengocok vaginanya sendiri. Mbak Sari juga begitu. Jari tengah tangan kirinya mengocok vaginanya sendiri yang sejak tadi telah basah oleh cairan-cairan kenikmatan. Mulutnya masih menghisap payudara kiriku.

Aku sudah tidak kuat lagi untuk berdiri. Segera saja kujatuhkan tubuhku dengan harapan Mamaku dan Mbak Sari menghentikan dalam ‘memperkosaku’. Ternyata tidak. Mbak Sari langsung mengangkangkan kedua kakiku dan menjilati vaginaku dengan lidahnya sambil tangan kanannya meremas-remas payudara kiriku. Sedangkan Mamaku duduk di atas kepalaku dan membelakangi Mbak Sari. Akhirnya aku mendapatkan cairan-cairan kenikmatan dari dalam vagina Mamaku. Dengan penuh nafsu lidahku menjilati cairan-cairan kenikmatan itu.

Mbak Sari lalu juga duduk diatasku. Vaginanya menempel pada vaginaku. Kami berdua mencari-cari kelentit masing-masing untuk digesekkan satu sama lain. Pantat Mbak Sari dan pantatku bergoyang seiring dengan kedua tangan Mbak Sari yang meremas-remas kedua payudara Mamaku dari belakang. Mamaku yang menoleh ke belakang menjulurkan lidahnya. Mbak Sari tahu maksud Mamaku. Sekarang lidah Mamaku dan lidah Mbak Sari saling menjilat.

Akhirnya kami mengalami puncak dalam beberapa menit. Kami bertiga sama-sama terlentang di atas lantai. Kami bertiga sama-sama menarik nafas panjang. Aku sangat kelelahan sekali dalam persetubuhanku yang pertama ini.

Rupanya Mamaku dan Mbak Sari belum puas dengan persetubuhan itu. Mereka berdua naik ke atas tempat tidur. Kedua duduk di atas tempat tidur. Keduanya berangkulan pinggang. Mamaku merangkul pinggang Mbak Sari dengan tangan kanannya. Sedangkan jari tengah tangan kirinya mengocok vagina Mbak Sari. Mbak Sari sendiri juga merangkul pinggang Mamaku dengan tangan kirinya. Sedangkan jari tengah tangan kanannya mengocok vagina Mamaku. Kedua lidah mereka saling berjilatan. Payudara kanan Mamaku saling menempel dengan payudara kiri Mbak Sari dan bergesekan.

Aku ikut naik ke tempat tidur dan terlentang di samping mereka berdua. Mbak Sari lalu pindah ke samping kananku. Sedangkan Mamaku tetap pada posisinya di samping kiriku. Mbak Sari menjilati tubuhku bagian kanan dengan lidahnya. Begitu juga dengan Mamaku yang menjilati tubuhku bagian kiri. Kedua tangan mereka berdua juga tidak berhenti bergerak. Dibelainya tubuhku bagian bawah. Entah siapa yang memulai. Kembali vaginaku dikocok oleh jari tengah mereka berdua sambil mereka berdua berjilatan lidah.

“Aaahh..” Desahku.

Kembali vaginaku mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan. Sedangkan Mamaku menghisap payudara kiriku dan Mbak Sari menghisap payudara kananku. Kedua tangan mereka berdua semakin liar dalam mengocok vaginaku. Mereka berdua sesekali menjilati puting payudaraku.

Lidah mereka berdua turun dan berebutan dalam menjilati cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari dalam vaginaku. Kedua tangan mereka berdua berebutan juga dalam meremas-remas kedua payudaraku. Aku hanya bisa menjerit-jerit. Jeritan kenikmatan.

“Aaahh..”

Sekarang giliran Mamaku yang menggesekkan kelentitnya ke kelentitku. Pantatnya bergoyang dan aku juga mengimbanginya dengan goyangan walaupun diatasku duduk Mbak Sari. Aku kebagian cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari dalam vagina Mbak Sari. Kujilati cairan-cairan kenikmatan itu dengan lidahku. Sedangkan Mamaku dan Mbak Sari juga kembali berjilatan lidah. Kedua tangan mereka saling meremas-remas kedua payudara. Sesekali juga meremas-remas kedua payudaraku.

“Aaahh..” Desahku lagi.

Sayup-sayup terdengar suara penjual es krim yang lewat di sekitar rumahku. Kami bertiga berganti posisi setelah beristirahat beberapa saat. Mamaku sekarang ditengah dan kedua tangannya membelai vaginanya sendiri. Aku merangkak di samping kirinya dan menjilati puting payudara kiri Mamaku dengan lidahku. Tangan kiriku juga meremas-remas payudara kiri Mamaku. Sedangkan jari tengah tangan kananku mengocok sendiri vaginaku yang mulai keluar lagi. Mbak Sari duduk di samping kanan Mamaku dan menjilati puting payudara kanan Mamaku dengan lidahnya. Tangan kirinya juga meremas-remas payudara kanan Mamaku. Sedangkan jari tengah tangan kanannya mengocok sendiri vaginanya yang juga mulai basah kembali.

“Aaahh..” Desah Mamaku.

Aku dan Mbak Sari lalu mengalihkan jilatan lidah ke telinga Mamaku sambil tangan kiri tetap meremas-remas payudara Mamaku dan tangan kanan tetap mengocok vagina masing-masing. Kemudian Mbak Sari mengangkangkan kedua kaki Mamaku. Dijilatinya cairan-cairan kenikmatan pada vagina Mamaku dengan lidahnya. Kedua tangannya membelai kedua paha Mamaku. Sedangkan aku kembali menghisap kedua payudara Mamaku bergantian sambil kedua tanganku meremas-remas kedua payudara Mamaku.

“Aaahh..” Desah Mamaku lagi.

Lalu kubimbing Mamaku untuk duduk dengan kedua tanganku. Mulutku masih menghisap payudara kiri Mamaku. Tangan kiriku membelai dan jari tengahnya mengocok vagina Mamaku. Sedangkan tangan kananku membelai punggung Mamaku. Tangan kanan Mamaku meremas-remas sendiri payudara kanannya. Sedangkan Mbak Sari dari belakangku menjilati leherku dan kedua tangannya membelai tubuhku terutama kedua payudaraku diremas-remasnya dari belakang.

Beberapa saat kemudian Mbak Sari berjilatan lidah dengan Mamaku. Aku masih tetap asyik dalam menghisap payudara kiri Mamaku. Masing-masing jari tengah tangan kanan mengocok sendiri vagina masing-masing.

Aku hentikan mulutku dalam menghisap payudara kiri Mamaku. Kusingkirkan tangan kanan Mamaku dari vaginanya. Kujilati cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari dalam vagina Mamaku dengan lidahku. Jari tengah tangan kananku sendiri masih mengocok vaginaku sendiri. Mamaku mendesah pelan. Mulutnya langsung disodori payudara kiri Mbak Sari. Sedangkan Mbak Sari juga menghisap payudara kiri Mamaku sambil tangan kirinya membelai betis kaki kiri Mamaku yang diangkat.

Kembali aku naik ke atas. Kuhisap payudara kanan Mamaku sambil jari tengah tangan kananku mengocok vagina Mamaku. Sedangkan jari tengah tangan kiriku mengambil alih jari tengah tangan kananku dalam mengocok vaginaku sendiri. Mbak Sari tetap menghisap payudara kiri Mamaku.

“Aaahh..” Desah Mamaku.

Aku lalu naik ke atas tubuh Mamaku dan duduk di atas perutnya. Semakin kuat kukocok vagina Mamaku yang makin banyak mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan begitu juga denganku yang menggesekkan kelentitku ke kelentit Mamaku. Sedangkan Mbak Sari yang juga duduk di belakangku dari belakang meremas-remas kedua payudaraku. Mamaku hanya bisa menjerit lirih dan kedua tangannya meremas-remas kedua payudara Mbak Sari dari belakang.

“Aaagghh..” Kami bertiga secara serentak saling mendesah.

Beberapa saat kemudian Mbak Sari mundur ke belakang dan membalikkan tubuhku. Vaginanya langsung dijilati oleh Mamaku dengan lidahnya. Mbak Sari mengocok vaginaku dengan jari tengah tangan kanannya. Tidak lupa juga dihisapnya payudara kananku. Posisiku setengah berdiri dengan kedua kaki dikangkangkan. Tangan kananku merangkul leher Mbak Sari. Sedangkan jari tengah tangan kiriku mengocok vagina Mamaku yang berada diantara kedua kakiku.

Aku menghindar ketika Mbak Sari akan menghisap payudara kiriku. Kujulurkan lidahku untuk menangkap lidahnya. Kami berdua berjilatan lidah sambil kedua tangan kami berdua saling memeluk pinggang. Jari tengah tangan kanan Mamaku mengambil alih jari tengah tangan kiriku dalam mengocok vaginanya sendiri. Sedangkan tangan kirinya membelai punggung Mbak Sari.

Tiba-tiba Mbak Sari mendorong pelan tubuhku dan mulutnya langsung mendarat dan menjilati vagina Mamaku dengan lidahnya. Kedua tangan Mamaku membenamkan kepala Mbak Sari ke selangkangannya. Sedangkan aku berinisiatif menjilati lubang pantat Mbak Sari.

Mbak Sari tidak kuat ketika jilatan lidah Mamaku ke vaginanya semakin kuat. Mbak Sari kembali duduk dan kepalanya mendongak ke atas sambil setengah menjerit. Segera saja vagina Mamaku yang kosong kujadikan santapan. Kujilati cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari dalam vagina Mamaku dengan lidahku.

“Aaahh..” Desah Mamaku.

Mbak Sari semakin tidak kuat. Dia kemudian berdiri dan mengangkangkan kedua kakinya. Mamaku lalu setengah tengkurap dan dijilatinya cairan-cairan kenikmatan yang keluar banyak dari dalam vagina Mbak Sari. Akupun mengikuti Mamaku dalam menjilati cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari dalam vagina Mbak Sari. Tangan kiriku juga membelai pantat Mamaku.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Mbak Sari semakin tidak tahan. Dia akhirnya terjatuh dengan posisi terlentang. Mamaku lalu turun dari tempat tidur dan membuka lemari. Akupun tidak kuat dan merangkak untuk turun juga dari tempat tidur. Tetapi kuurungkan niatku. Kurasakan ada yang memegang kaki kananku dan menjilati pantatku. Mamaku sendiri telah menghampiriku sambil tangan kanannya ke belakang menyembunyikan sesuatu yang diambil dari dalam lemari. Langsung saja kuhisap payudara kiri Mamaku yang berdiri di tepi tempat tidur.

Mamaku melempar benda yang ternyata dildo itu ke Mbak Sari yang kemudian menangkapnya. Dildo karet itu berwarna merah hati dengan dua buah sisi. Panjangnya sekitar 30 cm. Dildo tersebut oleh Mbak Sari pelan-pelan dimasukkan ke vaginaku. Dikeluarkan lagi. Dimasukkan lagi. Demikian berulang-ulang. Aku ingin menengok ke belakang. Tetapi Mamaku memegang kepalaku dan membenamkannya ke belahan kedua payudara Mamaku yang besar dan masih kencang.

Mbak Sari lalu masuk diantara kedua kakiku yang mengangkang. Dia terlentang dibawahku. Vagina Mbak Sari tepat berada dimulutku dan langsung saja kujilat vagina Mbak Sari dengan lidahku. Dildo tersebut didorong keluar masuk vaginaku dengan mulutnya. Mamaku menjilati dildo yang keluar masuk vaginaku tersebut. Dildo tersebut penuh dengan cairan-cairan kenikmatanku.

“Ooohh..” Desahku.

Mamaku sesekali juga menjilati lubang pantatku sambil kedua tangannya membelai tubuhku dan juga meremas kedua payudaraku dari belakang. Kedua tanganku juga membelai kedua paha Mbak Sari yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Lidahku juga menjilati kedua paha Mbak Sari bergantian. Sedangkan kedua puting payudaraku kegesekkan ke kelentit Mbak Sari. Kedua tangan Mbak Sari sesekali juga menepuk pantatku. Sesekali juga membelai kedua pahaku juga.

Aku tidak tahan dikocok dengan dildo itu. Tubuhku limbung dan akhirnya terlentang di samping Mbak Sari dengan dildo masih setengah didalam vaginaku. Mamaku lalu memasukkan ujung satu dildo itu ke vagina Mbak Sari. Kulihat Mbak Sari hanya diam. Kelihatannya Mbak Sari kelelahan. Tetapi ditumpangkannya kaki kanannya ke kaki kiriku. Sedangkan kutumpangkan kaki kananku ke kaki kiri Mbak Sari.

Mamaku lalu merangsangku dengan menjilati mulutku. Lidahku lalu keluar dan menjilati lidah Mamaku. Tangan kiriku memegang dildo itu. Mamaku juga merangsang Mbak Sari dengan memilin puting payudara kanan Mbak Sari dengan tangan kirinya.

Kami berdua mulai bereaksi. Aku dan Mbak Sari saling dorong-mendorong dildo itu. Sedangkan Mamaku merangkak mendekati Mbak Sari sambil payudara kanannya menggesek paha kiriku.

Tiba-tiba.

Tet.. Tet.. Tet..

Kami bertiga terkejut mendengar suara klakson mobil kupastikan itu suara klakson mobil Papaku yang memang khas. Mbak Sari menengok melalui jendela di dekatnya. Dari jendela itu dia bisa melihat halaman luar rumahku.

“Papa. Papa pulang.” Teriak Mbak Sari.

“Kalian beresin kamar ini. Biar Mama yang bukakan pintu pagar.” Kata Mamaku yang kemudian mengambil semua pakaiannya yang tergeletak dilantai termasuk pakaian dalamnya.

Sambil berjalan dia memakai semua pakaiannya itu. Sedangkan aku dan Mbak Sari merapikan tempat tidur. Beruntung Papaku membunyikan klakson mobil. Kalau tidak dan dia langsung masuk. Bisa berabe jadinya. Setelah rapi dan memakai pakaian rumah aku dan Mbak Sari lalu turun ke lantai bawah. Papaku dan Mamaku malah naik ke lantai atas.

Ternyata Papaku pulang hanya sebentar. Papaku pulang untuk meninggalkan mobil dan membawa pakaian ganti karena kantornya mengirimnya ke Singapura. Entah bohong atau tidak. Aku tidak begitu peduli. Mungkin saja dia punya wanita idaman lain. Kulihat jam dinding di ruang lantai atas itu. Jarum pendeknya menunjukkan angka dua dan jarum panjangnya tepat pada angka duabelas.

Rencananya Mamaku mau mengantar ke airport. Naik taksi ke kantornya dulu. Mengambil mobil yang tadi kelupaan dibawa karena begitu semangatnya diajak pulang Mbak Sari. Didalam kamar aku dan Mbak Sari menata pakaian Papaku. Sedangkan Papaku mandi di kamar mandi sebelah kamar tidur. Mamaku entah kemana. Aku lalu turun mengambil kantong plastik.

Kulihat Papaku dan Mamaku yang sama-sama telanjang saling berpelukan. Tubuh keduanya basah oleh air. Tangan Mamaku menutup pintu kamar mandi. Tapi tidak tertutup sepenuhnya. Aku masih bisa melihat bagaimana Mamaku mengocok penis Papaku yang besar dan panjang itu dengan tangan kanannya. Tangan kirinya berpegangan erat dengan tangan kanan Papaku. Sementara tangan kiri Papaku meremas-remas kedua payudara Mamaku bergantian.

Kurasakan ada yang melepas kaosku dan kemudian memelukku dari belakang. Aku mencoba menoleh ke belakang yang disambut jilatan lidah Mbak Sari ke lidahku. Tangan kanannya meremas-remas kedua payudaraku bergantian. Sedangkan tangan kirinya masuk ke celana kulotku yang tanpa celana dalam. Jari tengahnya mengocok vaginaku.

Tanpa sadar, kami berdua sudah telanjang dan bergabung dengan Papaku dan Mamaku didalam kamar mandi yang termasuk luas ini. Tubuh kami berdua juga sudah basah oleh air. Mamaku duduk dipangkuan Papaku. Pantatnya diturun naikkan seiring dengan keluar masuknya penis Papaku ke dalam vagina Mamaku. Aku dari samping kiri menjilati payudara kiri Mamaku. Sedangkan Mbak Sari dari samping kanan meremas-remas payudara kanan Mamaku.

“Aaahh..” Desah Mamaku.

Beberapa saat kemudian Mamaku merangkak. Aku terlentang di bawah Mamaku dan menjilati vagina Mamaku yang masih dikocok oleh penis Papaku dari belakang yang juga menjilati leher Mamaku dengan lidahnya. Mbak Sari mengangkangkan kedua kakiku dan menjilati vaginaku yang sudah mengeluarkan cairan-cairan kenikmatannya.

Mamaku merangkak ke depan dan saling berjilatan lidah dengan Mbak Sari. Penis Papaku disentuhkan ke mulutku. Aku membuka mulutku dan keluar masuklah penis Papaku ke dalam mulutku. Sedangkan Mbak Sari juga meremas-remas payudara kananku dengan tangan kanannya. Jari tengah tangan kirinya mengocok vaginaku. Kedua tanganku hanya bisa membelai kedua paha Mamaku.

Mamaku kemudian menelentangkan tubuhnya ke lantai kamar mandi. Papaku dari belakang kembali memasukkan penisnya ke dalam vagina Mamaku yang kemudian memiringkan tubuhnya. Aku duduk di belakang Papaku dan tangan kiriku membelai leher penis Papaku yang keluar masuk vagina Mamaku. Sedangkan Mbak Sari menjilati puting payudara kanan Mamaku dengan lidahnya. Mamaku hanya bisa mendongakkan kepala dan keluarlah jeritan kecil dari mulut Mamaku.

“Aaahh..”

Mbak Sari membungkam jeritan Mamaku dengan menyodorkan payudara kirinya untuk dihisap Mamaku. Papaku minta bagian untuk menghisap payudara kanan Mbak Sari. Sedangkan aku mengeluarkan penis Papaku dan kukocok dengan tangan kiriku. Jari tengah tangan kananku mengocok vagina Mamaku.

“Aku mau keluar nih.” Kata Papaku.

“Masukkan lagi San.” Pinta Mamaku.

Kumasukkan kembali penis Papaku ke dalam vagina Mamaku. Papaku juga membelai paha kanan Mamaku dengan tangan kanannya. Aku juga berbaring miring di belakang Papaku. Kugesekkan kedua payudaraku ke punggung Papaku. Tangan kananku maju ke depan dan meremas-remas payudara kanan Mamaku. Kepala Mbak Sari berkali-kali mendongak ke atas. Payudara kanan Mbak Sari masih dihisap oleh Papaku.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Papaku akhirnya mencapai orgasme di dalam vagina Mamaku. Aku dan Mbak Sari serentak mengangkat tubuh Mamaku. Kami bertiga bersandar pada dinding keramik kamar mandi. Aku di samping kanan Mamaku dan Mbak Sari di samping kiri Mamaku. Papaku masih terlentang di lantai kamar mandi. Penisnya sudah lemas. Mamaku menyentuh penis Papaku dengan kaki kirinya. Penis Papaku kembali tegang walaupun masih setengah.

Papaku kembali berdiri. Secepatnya aku jongkok di depannya dan kukulum penisnya dengan mulutku. Penis Papaku keluar masuk mulutku. Tangan kiriku juga membelai kedua buah pelirnya. Papaku mendongak ke atas menahan nikmat. Mbak Sari dari belakang memeluk Papaku dan menggesekkan kedua payudaranya ke punggung Papaku sambil kedua tangannya membelai dada Papaku yang ditumbuhi bulu-bulu lebat. Mamaku kulihat hanya duduk dan meremas-remas sendiri kedua payudaranya dengan kedua tangannya.

“Aaahh..” Desah Papaku.

Kutelentangkan tubuhku di lantai kamar mandi diantara kedua kaki Papaku yang mengangkang. Mbak Sari jongkok di belakang Papaku dan diraihnya penis Papaku ke belakang. Dijilatinya kepala penis Papaku sambil jari tengah tangan kirinya mengocok vaginaku.

Tetapi Papaku malah mengarahkan penisnya ke mulutku yang langsung saja mengulum penis Papaku sambil kukocok dengan tangan kiriku. Kedua tangannya meremas-remas kedua payudara Mamaku yang berdiri di depan Papaku. Sedangkan Mbak Sari menjilati cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari dalam vaginaku dengan lidahnya.

Papaku lalu mengarahkan penisnya ke vagina Mamaku. Tetapi Mamaku malah menghindar. Papaku lalu terlentang di lantai kamar mandi. Mamaku lalu duduk diselangkangan Papaku. Otomatis penis Papaku masuk ke dalam vagina Mamaku yang kemudian menaikturunkan pantatnya. Aku berdiri di samping kiri Papaku. Kupegang tangan kiri Papaku dan kusentuhkan ke vaginaku. Sedangkan Mbak Sari yang berdiri di samping kanan Papaku dengan nafsunya menjilati lidahku yang keluar dan tangan kanannya meremas-remas payudara kiriku.

“Aaahh..” Desah Mamaku tidak karuan.

Papaku mengeluarkan penisnya dan dihisapnya vagina Mamaku yang berdiri mengangkangkan kedua kakinya. Aku dan Mbak Sari berebutan menjilati kepala penis Papaku dan mengocok penis Papaku. Papaku lalu berdiri dibimbing Mamaku. Dari belakang kedua tangan Mamaku mengocok penis Papaku. Aku dan Mbak Sari duduk berdampingan dengan mulut menerima air mani yang sedikit demi sedikit keluar dari penis Papaku.

Air mani Papaku tumpah di kedua payudaraku dan kedua payudara Mbak Sari. Mbak Sari menggesekkan payudara kirinya ke payudara kananku. Lidah kami berdua menjulur keluar menerima sisa-sisa air mani Papaku yang juga dijilati oleh Mamaku dari samping kanan. Kedua jari tengah tangan kanan kami saling mengocok vagina yang banjir oleh cairan-cairan kenikmatan. Jari tengah tangan kananku mengocok vagina Mbak Sari. Sedangkan jari tengah tangan kanan Mbak Sari mengocok vaginaku.

“Hhhmm..”

Aku tidak kuat untuk duduk. Kutelentangkan tubuhku sambil tetap menjilati kepala penis Papaku. Mbak Sari setengah memangku kepalaku sambil tetap juga menjilati kepala penis Papaku bergantian denganku dan juga tangan kirinya meremas-remas payudara kiriku. Sedangkan jari tengah tangan kanannya mengocok vaginaku. Mamaku asyik berjilatan lidah dengan Papaku yang kedua tangannya meremas-remas pantat Mamaku.

Akhirnya kami berempat saling memandikan. Tetapi persetubuhan gila ini belumlah selesai. Selesai mandi dan menghanduki tubuh, dengan tetap telanjang Mamaku menyeret Papaku untuk masuk ke kamar. Mamaku menutup pintu kamar dan mencoba menguncinya. Mamaku melarang aku dan Mbak Sari untuk masuk. Aku dan Mbak Sari nekad dan saling dorong pintu dengan Mamaku. Mamaku kalah. Kami berdua berhasil masuk.

Mamaku marah-marah. Tetapi entah mengapa aku dan Mbak Sari didorong oleh sesuatu untuk menghampiri Papaku yang tengah memakai celana panjang. Kami berdua memelorotkan celana panjang yang belum sempat dikancingkan itu termasuk celana dalamnya. Penis Papaku masih lemas. Aku dan Mbak Sari membelai kedua paha Papaku bergantian.

Mamaku tidak marah lagi bahkan ikut bergabung dengan kami. Kami bertiga membimbing Papaku untuk terlentang di atas tempat tidur. Aku duduk di samping kiri Papaku. Lalu kujilati paha kanan Papaku sambil tangan kiriku membelai leher penis Papaku yang mulai tegang. Mbak Sari yang duduk di samping kanan Papaku membelai dada Papaku. Sedangkan Mamaku mengangkangkan kedua kakinya tepat di atas kepala Papaku. Papaku langsung menjilati vagina Mamaku.

“Aaahh..” Desah Mamaku.

Penis Papaku sudah tegang dan kukulum kepala penisnya dengan mulutku sambil tangan kiriku mengocok leher penisnya. Kurasakan cairan-cairan kenikmatan yang mulai keluar dari dalam vaginaku dan dijilati oleh Mbak Sari. Mbak Sari juga meremas-remas kedua payudaraku bergantian dengan tangan kirinya. Sedangkan jari tengah tangan kanannya mengocok sendiri vaginanya.

“Aaahh..” Desah Papaku.

Jilatan lidah Mbak Sari yang semakin liar pada vaginaku membuat aku terhenti dalam mengulum penis Papaku. Aku hanya bisa meremas-remas kedua payudaraku bergantian dengan kedua tanganku. Sedangkan Mamaku menngulum penis Papaku dengan enaknya. Kujulurkan lidahku ke arah Papaku yang kemudian juga menangkap lidahku dengan lidahnya.

Mamaku menindihi tubuh Papaku dan memasukkan penis Papaku ke dalam vaginanya. Lidah Mamaku juga berebutan dengan lidah Papaku untuk menjilati lidahku. Kedua tangannya juga berebutan dengan kedua tangan Mbak Sari dan kedua tanganku sendiri untuk meremas-remas kedua payudaraku. Mbak Sari sendiri masih menjilati vaginaku dengan lidahnya. Sesekali tangan kanannya yang kecil mencoba untuk masuk ke dalam vaginaku. Tetapi kucegah dengan kaki kiriku yang menyentakkan tangan kanannya.

Mbak Sari pindah ke belakang dan menjilati leher penis Papaku yang masih keluar masuk vagina Mamaku. Tangan kanannya membelai kedua buah pelirnya. Sedangkan aku menjilati pantat Mamaku sambil tangan kananku membelai punggung Mamaku.

Mamaku akhirnya tumbang oleh Papaku. Mamaku terjatuh di samping kiri Papaku yang kemudian menyodorkan penisnya untuk dikulum Mamaku. Kulihat Mbak Sari di samping kanan Mamaku terlentang dengan kedua kaki mengangkang. Cairan-cairan kenikmatannya banyak keluar dari dalam vaginanya. Kujilati vagina Mbak Sari dengan lidahku. Sementara Mbak Sari juga saling berjilatan lidah dengan Papaku.

Jilatan lidahku naik ke atas. Kujilati pusar Mbak Sari sambil tangan kananku mengangkat punggung Mbak Sari dan kemudian memeluk pinggangnya. Lidahku semakin naik ke atas. Sebelum saling berjilatan lidah dengan Mbak Sari, lidahku menjilati belahan kedua payudara Mbak Sari. Jari tengah tangan kiriku mengocok vagina Mbak Sari yang mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan.

Lidahku kembali turun ke bawah dan menjilati vagina Mbak Sari yang basah karena cairan-cairan kenikmatan. Kulihat Papaku dan Mamaku berdiri dan saling berjilatan lidah. Tangan kanan Mamaku mengocok penis Papaku dan jari tengah tangan kirinya mengocok vaginanya sendiri.. Sedangkan kedua tangan Papaku memeluk pinggang Mamaku.

Mamaku lalu jongkok di depan Papaku. Mulutnya langsung mengulum penis Papaku. Sedangkan aku sudah menindihi Mbak Sari dan menjilati vaginanya. Mbak Sari sendiri juga menjilati vaginaku. Kedua vagina kami berdua sama-sama banjir oleh cairan-cairan kenikmatan. Aku dan Mbak Sari berlomba untuk sama-sama mencapai orgasme.

Aku kalah dan jatuh terlentang di atas tempat tidur. Nafasku habis. Mbak Sari menang. Mbak Sari lalu menghampiri Mamaku yang sedang menjilati kepala penis Papaku. Mbak Sari membungkukkan tubuhnya untuk kemudian menjilati leher penis Papaku dan juga kedua buah pelirnya. Kedua tangannya juga meremas-remas sendiri kedua payudaranya.

Papaku membimbing Mamaku untuk berdiri dan dari belakang dimasukkannya penisnya ke lubang pantat Mamaku.. Sedangkan Mbak Sari dari belakang Papaku menggesekkan kedua payudaranya ke punggung Papaku. Kedua tangannya maju ke depan dan meremas-remas kedua payudara Mamaku. Jari tengah tangan kirinya masih mengocok vaginanya sendiri.

“Aaahh..” Desah Mamaku.

Mbak Sari lalu pindah ke depan sambil kedua tangannya membelai tubuh Papaku dan Mamaku. Digesekkannya kedua payudaranya ke kedua payudara Mamaku. Mbak Sari mengeluarkan lidahnya dan menjilati lidah Mamaku yang dari tadi terjulur keluar. Kelentit Mbak Sari digesekkan juga ke kelentit Mamaku. Kedua tangan Mamaku meremas-remas pantat Mbak Sari.

Beberapa saat kemudian Mamaku lemas. Mbak Sari jongkok dan mengeluarkan penis Papaku dari lubang pantat Mamaku. Mamaku lalu bergeser ke dekatku. Dia duduk menyandarkan punggungnya ke sandaran tempat tidur. Mbak Sari lalu dengan nafsunya mengocok penis Papaku. Mulutnya sudah terbuka dan lidahnya dijulurkan. Keluarlah air mani Papaku yang kemudian ditelan oleh Mbak Sari. Aku sendiri ingin bangkit dan bergabung kembali. Tetapi rupanya aku benar-benar kelelahan. Aku terjatuh kembali dan menindihi Mamaku yang langsung memelukku.

Mbak Sari masih menjilati sisa-sisa air mani Papaku ketika terdengar bunyi telepon. Kami berempat akhirnya sadar akan apa yang telah kami lakukan. Mamaku mengangkat telepon kemudian menyusul Papaku yang telah masuk kamar mandi. Sedangkan aku dan Mbak Sari masih termenung di atas tempat tidur.

Ternyata telepon dari kantor Papaku yang memberitahukan bahwa Papaku akan dijemput oleh mobil kantor. Tetapi Mamaku tetap ikut pergi juga untuk mengambil mobilnya. Kami berdua tinggal dirumah dan menonton televisi dengan berdiam diri. Jam dinding di ruang keluarga berdentang sebanyak empat kali.

“Mbak. Cerita dong Mbak.” Kataku memecahkan keheningan sore.

“Cerita apa?”

“Pengalaman Mbak dengan teman Mbak yang lesbi itu.”

“Nggak ah. Nanti kamu terangsang.”

“Nggak kok.”

“Kalau iya. Gimana coba?”

“Tampar saja aku.”

“Benar. Ditampar.”

“Benar. Dilengan saja. Sekerasnya sampai aku sadar.”

“OK deh.”

*****

Suatu sore satu setengah tahun yang lalu. Mbak Sari mengerjakan tugas kuliah dengan temannya yang bernama Ana. Lalu mereka berdua mengobrol tentang berbagai hal. Sampai,

“Kamu pernah bersetubuh nggak Sar?” Tanya Ana.

“Kamu sendiri?” Mbak Sari malah balik bertanya.

“Belum.”

“Kamu pingin nyoba?”

“He eh.”

“Nyoba sama aku yuk.”

“Boleh. Siapa yang jadi cowoknya?” Kata Ana sambil membuka kaosnya.

Mbak Sari kaget melihat reaksi Ana. Padahal dia hanya bercanda. Perkiraannya Ana akan menolak ajakannya.

“Nggak kok. Aku cuma bercanda.” Kata Mbak Sari sambil menyodorkan kaos Ana yang sudah dilepas.

“Kamu curang. Aku sudah setengah telanjang nih.” Kata Ana sambil menubruk Mbak Sari.

Akhirnya tanpa sadar Mbak Sari dan Ana saling melepaskan pakaian. Keduanya duduk menyamping di tepi tempat tidur. Mbak Sari dari belakang membelai bahu Ana. Ana menolehkan kepalanya ke belakang. Dilihatnya Mbak Sari yang matanya setengah terpejam sedang menjulurkan lidahnya. Ana juga menjulurkan lidahnya menangkap lidah Mbak Sari. Mbak Sari juga meremas-remas kedua payudara Ana dari belakang dengan kedua tangannya.

Ana lalu mendorong tubuh Mbak Sari sehingga Mbak Sari jatuh terlentang. Ana ganti meremas-remas kedua payudara Mbak Sari dengan kedua tangannya. Payudara kirinya digesekkan ke belahan kedua payudara Mbak Sari. Sedangkan payudara kanannya diremas-remas oleh Mbak Sari dengan tangan kirinya.

Beberapa saat kemudian Ana menyodorkan payudara kanannya ke mulut Mbak Sari yang langsung menghisapnya. Tangan kiri Ana meremas-remas payudara kanan Mbak Sari. Sedangkan payudara kiri Mbak Sari diremas-remasnya sendiri dengan tangan kirinya. Tangan kanan Mbak Sari membelai vaginanya sendiri yang mulai basah oleh cairan-cairan kenikmatan.

Ana kemudian menindihi Mbak Sari dan tangan kanannya meremas payudara kanan Mbak Sari sambil lidahnya menjilati puting payudaranya. Kaki kiri Mbak Sari menindihi tubuh Ana yang kemudian menurunkan jilatan lidahnya ke vagina Mbak Sari. Mbak Sari hanya bisa meremas-remas sendiri kedua payudaranya dengan kedua tangannya.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Ana kembali naik ke atas tubuh Mbak Sari. Dijilatinya leher Mbak Sari dengan lidahnya. Lidah Ana segera menangkap lidah Mbak Sari yang menjulur keluar. Kedua puting payudaranya bergesekan dengan kedua puting payudara Mbak Sari. Kedua tangan Mbak Sari membelai pinggang Ana. Kedua kaki Mbak Sari juga diangkat ke atas dan memeluk tubuh Ana.

Mbak Sari lalu membalikkan tubuh Ana sehingga kini Ana terlentang di atas tubuh Mbak Sari dengan kepala menindihi payudara kanan Mbak Sari tepat pada pipinya. Kedua tangan Mbak Sari meremas-remas kedua payudara Ana yang jari tengah tangan kanannya mengocok sendiri vaginanya yang basah oleh cairan-cairan kenikmatan. Sedangkan tangan kirinya membelai paha kiri Mbak Sari.

“Aaahh..” Desah Ana.

Mbak Sari menurunkan tubuh Ana. Tangan kanan Ana menangkap payudara kiri Mbak Sari dan langsung saja dijilatinya puting payudara kiri Mbak Sari dengan lidahnya. Mbak Sari menggeser tubuhnya ke samping lagi. Tangan kanan Ana ganti menangkap payudara kanan Mbak Sari dan meremas-remasnya. Sedangkan Mbak Sari dari belakang tidak mau kalah. Tangan kirinya memilin puting payudara kiri Ana dan sekaligus tangan kanannya membelai vagina Ana. Hal ini membuat Ana mendesah tak karuan.

“Aaahh..”

Tangan kanan Mbak Sari lalu naik ke atas dan meremas-remas payudara kanan Ana yang telah menjilati juga puting payudara kanan Mbak Sari. Ana lalu membalikkan tubuhnya dan setengah berdiri dengan kedua kaki ditekuk ke belakang. Kedua puting payudaranya digesekkan ke kedua puting payudara Mbak Sari yang juga setengah berdiri dengan kedua kaki ditekuk ke belakang. Kedua tangan mereka berdua saling berpegangan pada pinggang.

Mbak Sari lalu merangkak mau menjauhi Ana. Tetapi kedua kakinya ditangkap oleh Ana. Kedua payudara Ana digesekkan ke pantat Mbak Sari yang membuat Mbak Sari jatuh telungkup. Ana langsung membalikkan tubuh Mbak Sari dan mau menindihi Mbak Sari. Mbak Sari kemudian menumpangkan kaki kanannya ke tubuh Ana. Ana hanya bisa berbaring miring di samping Mbak Sari.

Payudara kanan Mbak Sari bergesekan dengan payudara kiri Ana. Keduanya saling menjulurkan lidah. Tangan kanan Mbak Sari membelai bagian belakang leher Ana. Sedangkan jari tengah tangan kirinya mengocok sendiri vaginanya. Jari tengah tangan kanan Ana juga mengocok vaginanya. Tangan kirinya membelai paha kanan Mbak Sari yang menindihi pinggangnya.

Ana lalu duduk di atas mulut Mbak Sari. Vaginanya yang basah oleh cairan-cairan kenikmatan dijilati Mbak Sari dengan lidahnya. Jari tengah tangan kanan Ana mengocok vagina Mbak Sari. Tubuhnya semakin menindihi tubuh Mbak Sari. Kedua puting payudaranya digesekkan ke kelentit Mbak Sari bergantian sampai akhirnya Ana juga menjilati vagina Mbak Sari dengan lidahnya.

Ana kemudian membalikkan tubuhnya dan turun dari tubuh Mbak Sari. Disilangkannya kedua kakinya dengan kedua kaki Mbak Sari. Kelentit Ana dan kelentit Mbak Sari saling menempel. Ana dan Mbak Sari sama-sama saling mendorong pantatnya supaya kelentit mereka berdua bisa bergesekan. Kedua tangan mereka berdua juga meremas-remas sendiri kedua payudaranya.

“Aaahh..” Ana dan Mbak Sari saling mendesah tidak karuan.

Selama dua minggu sejak peristiwa itu keduanya saling menghindar dan berdiam diri ketika ketemu di kampus. Keduanya melakukan persetubuhan kembali ketika tanpa sengaja sama-sama masuk ke toilet. Ketika Ana keluar dari toilet, Mbak Sari yang tergesa-gesa menabraknya. Keduanya jatuh. Mbak Sari menindihi Ana. Tanpa sadar mereka berdua berciuman. Ana dan Mbak Sari tenyata sama-sama ketagihan tetapi juga berusaha untuk tidak terjerumus ke dunia lesbi sehingga saling menghindar ketika bertemu. Ternyata Ana dan Mbak Sari tidak bisa menolak lagi untuk melakukan persetubuhan.

*****

Aku mendengarkan cerita Mbak Sari dengan menahan nafsu dan menahan nafas. Justru Mbak Sari yang salah tingkah dan tidak kuat menahan nafsunya. Dia berlari ke lantai atas dan masuk ke kamarnya. Aku mengikutinya dan berhenti di pintu kamarnya. Dia mengambil sesuatu dari dalam lemarinya. Beberapa buah dildo. Sebuah dildo merah hati dengan dua kepala yang tadi siang telah dipakai. Sebuah dildo coklat dengan tali karet yang besarnya hampir sama dengan punya Papaku. Sebuah dildo hitam dengan vibrator sepanjang 20 cm. Dan sebuah dildo putih sepanjang 20 cm.

Mbak Sari melepas semua pakaiannya. Kelihatannya Mbak Sari tidak tahu kalau aku mengikutinya. Diambilnya dildo yang terakhir. Mbak Sari lalu terlentang di atas tempat tidur dan dikangkangkannya kedua kakinya. Pelan-pelan dildo itu masuk ke vaginanya. Mengocok vaginanya. Aku dibuatnya terangsang. Kulepas juga semua pakaianku.

“Jangan San.” Teriak Mbak Sari mencegahku.

Tapi aku nekad. Aku berbaring miring di samping kiri Mbak Sari. Tangan kiriku memegang dildo yang tadi dipegang Mbak Sari. Sekarang aku yang mengocok vagina Mbak Sari. Sedangkan tangan kanan Mbak Sari mengangkat ke atas kaki kanannya. Tangan kirinya menumpangkan kaki kirinya ke pinggangku. Kuambil dildo merah hati dengan tangan kananku.

Kumasukkan dildo merah hati ke dalam vaginaku. Sedangkan ujung satunya kumasukkan ke vagina Mbak Sari menggantikan dildo putih yang kini menari-nari di belahan kedua payudaraku. Kudorong dildo merah hati keluar masuk vaginaku dan juga vagina Mbak Sari. Kami berdua sama-sama menahan desahan dengan menjulurkan lidah.

Mbak Sari rupanya tidak respon dengan perbuatanku sehingga kukeluarkan dildo merah hati tersebut dari dalam vaginaku. Aku lalu meletakkan dildo putih dan mengambil dildo hitam. Kemudian aku duduk di samping Mbak Sari yang mengocok sendiri vaginanya dengan dildo merah hati. Dildo hitam tersebut kugesekkan dibelahan kedua payudara Mbak Sari dengan tangan kananku sementara tangan kiriku mengeluarkan dildo merah hati dari dalam vagina Mbak Sari serta meletakkannya ke meja kecil samping tempat tidur.

Dildo hitam tersebut kuturunkan ke bawah dan meliuk-liuk di sekitar vagina Mbak Sari yang sudah basah oleh cairan-cairan kenikmatan. Mbak Sari meremas-remas payudara kanannya dengan tangan kanannya. Mbak Sari lalu merebut dildo hitam itu dengan tangan kirinya dan kemudian dikulumkan ke mulutnya sendiri. Seolah-olah dildo hitam itu adalah penis seorang laki-laki.

Kujilati vagina Mbak Sari dengan lidahku sambil kuambil kurebut kembali dildo hitam dari tangan Mbak Sari. Kumasukkan dildo hitam ke dalam vagina Mbak Sari sambil tetap kujilati vaginanya dengan lidahku. Tangan kanan Mbak Sari meremas-remas payudara kanannya. Tangan kirinya mengambil dildo putih dan dikulumkan ke mulutnya.

Tiba-tiba Mbak Sari mendorong aku sampai jatuh terlentang. Mbak Sari berusaha membalikkan tubuhku. Dengan sekuat tenaga aku melawan. Kudorong tubuhnya juga sampai Mbak Sari jatuh terlentang juga dan langsung kutindihi supaya Mbak Sari tidak mendorongku lagi. Mbak Sari berusaha membalikkan keadaan. Tapi aku tidak mau kalah. Kami berdua berpelukan dan bergulingan di atas tempat tidur.

Kami berdua akhirnya kelelahan. Setelah mengambil nafas aku menungging mengambil dildo putih yang tadi terjatuh ke lantai. Rupanya Mbak Sari lebih cepat. Mbak Sari mengambil dildo hitam dan dikocoknya ke vaginaku. Tubuhku tidak bisa bergerak. Kedua tanganku hanya bisa meremas-remas sprei tempat tidur walaupun aku berhasil mengambil dildo putih.

“Aaahh..” Desahku.

Mbak Sari juga mengambil dildo putih dari tanganku dan berusaha memasukkannya ke pantatku.

“Jangan Mbak. Jangan pantat. Sakiit..” Jeritku.

Mbak Sari akhirnya berhenti. Berhenti. Aku menarik nafas panjang. Ternyata tidak. Mbak Sari mengambil dildo coklat. Tali karetnya diikatkan ke pinggangnya. Mbak Sari jadi mirip seperti seorang laki-laki. Hanya saja Mbak Sari memasang dildo tersebut agak ke atas sehingga dia mirip laki-laki dengan penis dan vagina. Dihampirinya aku yang telah duduk di atas tempat tidur. Dildo coklat disodorkan ke mulutku. Aku mengulumnya.

Tangan kanan Mbak Sari meremas-remas payudaranya dan berusaha dijilatinya sendiri putingnya dengan lidahnya. Sedangkan tangan kirinya mengambil dildo putih dan dikocokkan ke vaginanya sendiri sambil memasukkan dildo coklat ke dalam vaginaku. Tidak lupa dia mendorong tubuhku untuk terlentang. Sedangkan dia merangkak diatasku.

“Aaahh..” Desahku.

Rupanya Mbak Sari belum puas dengan hanya dua buah dildo. Mbak Sari mengambil dildo hitam dan dengan perlahan dimasukkan ke lubang pantatnya sendiri. Dikeluarkan lagi. Dimasukkan lagi. Akhirnya dikocokkan ke lubang pantatnya. Dia mendesah tidak karuan. Aku yang juga mendesah tidak karuan membungkam mulutnya dengan jilatan lidahku yang segera dijilati oleh lidah Mbak Sari.

Beberapa saat kemudian Mbak Sari mengeluarkan dildo putih dari dalam vaginanya dan dildo hitam dari dalam lubang pantatnya. Diletakkannya kedua dildo tersebut disampingnya. Mbak Sari menindihi tubuhku dan menaikturunkan pantatnya. Dildo coklat yang dipakai Mbak Sari mengocok vaginaku yang semakin basah oleh cairan-cairan kenikmatan. Kedua payudaranya bergesekan dengan kedua payudaraku. Kuangkat kedua kakiku. Kami berdua masih berjilatan lidah.

Mbak Sari kembali duduk sambil mengangkat kedua kakiku dan ditumpangkan ke pundaknya. Mbak Sari masih mengocok vaginaku dengan dildo coklat. Kuremas-remas sendiri kedua payudaraku dengan kedua tanganku. Sesekali kepalaku mendongak ke atas. Sesekali juga kedua tanganku membelai vaginaku sendiri dan juga membelai kedua betis Mbak Sari yang menjepit pinggangku.

“Aaahh..” Desahku.

Akhirnya Mbak Sari mengeluarkan dildo coklatnya. Mbak Sari duduk dan membelai dildo coklat yang basah oleh cairan-cairan kenikmatanku. Aku merangkak mendekati Mbak Sari. Kujilati dildo coklat dengan sambil tangan kiriku dari belakang mengocok vaginaku dengan dildo putih. Mbak Sari juga mengocok vaginanya dengan dildo hitam dan sesekali dikulumkan ke mulutnya sendiri.

Kulepaskan ikatan tali karet dildo coklat dari pinggang Mbak Sari. Kujilati cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari dalam vagina Mbak Sari dengan lidahku. Tangan kanan Mbak Sari menekan kepalaku dan tangan kirinya meremas-remas payudara kirinya. Aku membantunya dengan meremas-remas payudara kanannya dengan tangan kiriku.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Cairan-cairan kenikmatan dari dalam vaginaku juga banyak keluar sehingga tubuhku naik ke atas tubuh Mbak Sari dengan kedua tangan berpegangan pada dinding kamar. Vaginaku tepat dijilati Mbak Sari dengan lidahnya. Mbak Sari mengocok vaginanya sendiri dengan jari tengah tangan kanannya. Sementara tangan kiri Mbak Sari bergantian meremas-remas kedua payudaraku yang bergantungan dan bergoyang diatasnya.

Tubuhku turun dan menduduki selangkangan Mbak Sari. Mbak Sari juga duduk. Kedua kaki kami saling bersilangan. Kedua tangan kami saling membelai kedua payudara. Kemudian dilanjutkan saling meremas-remas kedua payudara. Entah siapa yang mulai. Aku dan Mbak Sari telah saling menggesekkan kedua payudara. Kelentit kami berdua juga saling bergesekan. Semakin lama semakin menggairahkan. Aku dan Mbak Sari saling mendesah tidak karuan.

“Aaahh..”

Kelentitku dan kelentit Mbak Sari bergesekan terus dan mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan sampai akhirnya aku tidak sadar apa yang telah terjadi. Sekelilingku gelap. Aku pingsan.

Aku bangun dari pingsanku. Mbak Sari tidak berada di kamarnya yang telah gelap. Hanya sedikit cahaya lampu dari luar kamar. Dari sedikit cahaya itu kulihat jam dinding di kamar Mbak Sari. Jarum panjangnya menunjuk angka sebelas dan jarum pendeknya menunjuk angka delapan.

Aku berdiri dan keluar dari kamar Mbak Sari dengan masih telanjang. Vaginaku terasa sakit. Dildo merah hati berada di dalam vaginaku dan menggantung keluar. Entah apa yang dilakukan Mbak Sari ketika aku pingsan. Kukeluarkan dildo merah hati itu. Ingin kubalas perlakuan Mbak Sari terhadapku waktu aku pingsan tadi. Kudengar suara air dari kamar mandi bawah. Aku turun dan kubawa juga dildo merah itu.

Aku masuk ke kamar mandi berdinding dan berlantai keramik yang ada tubnya itu. Tub yang bisa muat untuk empat orang itu setengah terisi air. Kulihat Mbak Sari berdiri dalam tub dan sedang menyabuni tubuhnya yang sudah penuh dengan sabun. Mbak Sari menyelupkan kedua tangannya ke dalam air dan disiramkan ke tubuhku. Aku masuk ke dalam tub. Rasa balas dendamku hilang. Yang ada perasaan gairah yang mengebu-gebu. Kulepaskan dildo merah hati dan kurebut sabun dari tangan Mbak Sari.

Lalu kedua tanganku menyabuni kedua payudara Mbak Sari. Ketika itu aku hampir terpeleset dan berpegangan pada pinggang Mbak Sari. Mbak Sari lalu membalikkan tubuhku. Dari belakang Mbak Sari merebut kembali sabun dari tanganku dan disabuninya kedua payudaraku. Disabuninya juga seluruh tubuhku dari belakang. Diputar-putarnya kedua telapak tangannya ke kedua payudaraku.

“Aaahh..” Desahku.

Kupegang tangan kanannya dan kuremas-remas ke payudara kananku. Sedangkan tangan kiriku memegang tangan kiri Mbak Sari yang memegang sabun. Tangan kiri kami berdua saling meremas dan membuat sabun itu terjatuh ke dalam air. Kubimbing tangan kiri Mbak Sari untuk membelai vaginaku.

Mbak Sari malah mengocok vaginaku dengan jari tengah tangan kirinya sementara tangan kanannya masih meremas-remas payudara kananku dan lidahnya menjilati leherku. Tangan kiriku bergerak ke belakang dan meremas-remas pantat Mbak Sari.

Tidak lama aku dalam meremas-remas pantat Mbak Sari. Sampai Mbak Sari menempelkan tubuhnya ke punggungku dan agak mendorongnya ke depan. Selangkangannya menggesek pantatku. Leherku masih dijilatinya dengan lidahnya. Kudongakkan kepalaku ke belakang. Kocokan jari tengah tangan kirinya semakin liar. Kuremas-remas sendiri payudara kiriku dengan tangan kiriku sendiri.

“Aaahh..” Desahku.

Aku tidak tahan dengan perlakuan Mbak Sari. Aku melepaskan diri dari pelukannya. Tetapi Mbak Sari memegangi kedua kakiku. Dia duduk di belakangku dan kedua tangannya membelai kedua pahaku. Dijilatinya juga kedua pahaku dengan lidahnya. Aku agak maju ke depan. Kedua tanganku berpegangan pada dinding kamar mandi. Mbak Sari masih membelai kedua pahaku bahkan lidahnya menjilati pantatku. Kugesekkan kedua payudaraku pada dinding kamar mandi.

“Aaahh..” Desahku lagi.

Kubalikkan tubuhku dan duduk di tepi tub. Kukangkangkan kedua kakiku dengan harapan vaginaku yang sudah mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan dijilati Mbak Sari dengan lidahnya. Ternyata tidak. Mbak Sari memegang kaki kiriku dan dijilatinya jari-jari kakiku dengan lidahnya sambil kedua tangannya membelai kedua betisku.

Lidahnya semakin naik ke atas dan akhirnya menjilati vaginaku. Tangan kanannya meremas-remas kedua payudaraku bergantian. Sedangkan tangan kirinya meremas-remas kedua payudaranya sendiri bergantian. Aku sendiri ingin meremas-remas kedua payudara Mbak Sari. Tetapi kedua tanganku kupakai buat bertumpu pada tepi tub.

“Aaahh..” Desahku.

Lidah Mbak Sari kembali menelusuri paha kananku. Ke bawah. Kebetis. Dan jari-jari kaki kananku dijilatinya dengan lidahnya. Kugeser tubuhku agar bisa bersandar pada dinding kamar mandi. Kedua tanganku bisa meremas-remas sendiri kedua payudaraku. Jempol kaki kanan Mbak Sari menggesek kelentitku. Sedangkan jempol kaki kirinya menari-nari di belahan kedua payudaraku.

“Aaahh..” Aku kembali mendesah.

Beberapa saat kemudian aku berdiri dan kukangkangkan kedua kakiku di depan Mbak Sari yang langsung menjilati cairan-cairan kenikmatan yang membasahi vaginaku dengan lidahnya. Kedua tangan Mbak Sari juga membelai kedua pahaku dan betisku. Kedua tanganku hanya bisa membelai dinding kamar mandi. Sesekali kugesekkan kedua payudaraku ke dinding kamar mandi.

“Aaahh..” Desahku.

Kuturunkan tubuhku dan telungkup di dalam air. Mbak Sari duduk di pojokan tub. Kedua kakinya dikangkangkan. Aku merangkak dan menjilati betis dan paha kanan Mbak Sari. Sedangkan tangan kanan Mbak Sari meremas-remas payudara kanannya sendiri dan tangan kirinya menyabuni punggungku.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Lalu kubalikkan tubuhku dan duduk di dalam air. Kujilati vagina Mbak Sari yang mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan dengan lidahku. Tangan kananku membelai betis kiri Mbak Sari dan tangan kiriku membelai vaginaku sendiri. Sedangkan tangan kanan Mbak Sari menyabuni kedua payudaranya bergantian dan tangan kirinya membelai paha kirinya sendiri.

“Aaahh..” Mbak Sari kembali mendesah.

Aku agak kaget ketika jempol kaki kiri Mbak Sari digesekkan ke kelentitku. Aku jadi semakin bersemangat dalam menjilati vagina Mbak Sari. Kedua tangan Mbak Sari membelai tubuhnya sendiri dan sesekali diremas-remasnya kedua payudaranya. Aku mengambil sabun dari tangan Mbak Sari dan kusabuni sendiri kedua payudaraku sampai berbusa.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari lagi.

Kemudian aku berhenti dalam menjilati vagina Mbak Sari dengan lidahku. Aku setengah berdiri dengan kedua kaki ke belakang. Kupeluk pinggang Mbak Sari yang kemudian juga setengah berdiri. Kutempelkan kedua payudara ke kedua payudara Mbak Sari. Kedua payudara kami yang penuh busa saling gesek. Kami bersama-sama mendesah.

“Aaahh..”

Kami berdua saling berjilatan lidah. Persetubuhan ini menjadi semakin panas. Jari tengah tangan kananku mengocok vagina Mbak Sari. Sedangkan vaginaku sendiri juga dikocok oleh Mbak Sari dengan jari tengah tangan kanannya. Sementara tangan kiri kami berdua saling meremas-remas kedua payudara yang masih tetap bergesekan.

Mbak Sari lalu mengangkat kedua kakinya dan berpijak pada tepi tub. Sedangkan kedua tangannya berpegangan pada tepi tub pada sisi yang lain. Kedua kakinya yang mengangkang membuatku mudah dalam menjilati vagina Mbak Sari yang banjir oleh cairan-cairan kenikmatan. Kedua tanganku juga meremas-remas pantatnya. Sesekali kuremas-remas kedua payudaranya yang menggantung diatasku.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Beberapa menit kemudian Mbak Sari turun ke bawah. Sekarang giliranku yang naik ke atas. Tapi aku hanya duduk. Aku tidak kuat untuk bertumpu dengan kedua kaki dan tangan. Mbak Sari tidak mau tahu. Langsung saja dijilatinya vaginaku dengan lidahnya. Kedua tangannya membelai tubuhku dari bawah ke atas terutama kedua payudaraku. Sesekali juga jari tengah tangan kanannya mengocok vaginaku.

“Aaahh..” Kali ini aku yang mendesah.

“Sar. San. Dimana kalian?”

Teriak Mamaku dari luar kamar mandi. Suaranya menjauh. Langkah sepatunya naik ke lantai atas. Hanya beberapa langkah lalu turun lagi. Kami berdua tetap asyik saja di dalam kamar mandi. Aku dan Mbak Sari duduk di dalam tub dan saling mencipratkan air yang sudah bercampur dengan sabun. Mbak Sari memegang selang shower dan disemprotkan ke arahku.

“Waah. Kalian ninggalin Mama ya.” Kata Mamaku yang rupanya telah berada di depan pintu kamar mandi.

Mamaku tengah melepas kancing bajunya. Mbak Sari menyemprotkan air ke arah Mamaku. Mamaku berusaha menghindar sambil tetap melepaskan semua pakaiannya. Mamaku lalu masuk ke dalam tub dan merebut selang dari tangan Mbak Sari. Disemprotnya payudara kanan Mbak Sari. Sedangkan tangan kiriku meremas-remas payudara kiri Mbak Sari sambil menjilati lehernya.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Kedua tangan Mbak Sari meremas-remas sendiri kedua payudaranya. Kujilati puting payudara kanan Mbak Sari dengan lidahku sambil tangan kananku membimbingnya untuk terlentang. Mamaku mematikan air selang dan meletakkan ketempatnya kembali. Lidahnya lalu menjilati leher Mbak Sari yang kemudian mengeluarkan lidahnya. Mamaku dan Mbak Sari saling berjilatan lidah.

Kemudian Mamaku menjilati puting payudara kiri Mbak Sari. Lidahnya bertemu dengan lidahku. Aku dan Mamaku saling berjilatan lidah. Sedangkan Mbak Sari berdiri dan akan meninggalkan tub. Kedua tanganku menahannya. Kupeluk tubuh Mbak Sari dari belakang sambil kedua tanganku membelai kedua pahanya. Kugesekkan kedua payudaraku ke pantat Mbak Sari. Sedangkan Mamaku dari belakangku menjilati punggungku dengan lidahnya.

Mbak Sari tidak kuat untuk berdiri. Dia lalu duduk di pojokan tub dan mengangkangkan kedua kakinya. Aku duduk di depan Mbak Sari dan kujilati cairan-cairan kenikmatan yang keluar dari vaginanya dengan lidahku. Sementara Mamaku masih menjilati punggungku sambil tangan kanannya meremas-remas payudara kananku dan tangan kirinya meremas-remas payudara kanan Mbak Sari.

“Aaahh..” Desah Mbak Sari.

Tubuh Mbak Sari merosot ke bawah. Aku berdiri dan kukangkangkan kedua kakiku. Mbak Sari langsung menjilati vaginaku dengan lidahnya. Sementara Mamaku keasyikan menjilati punggungku. Jari tengah tangan kanannya mengocok vaginaku. Sedangkan tangan kirinya meremas-remas payudara kiriku.

“Aaahh..” Desahku.

Mamaku lalu menggesekkan kedua payudaranya ke pantatku. Aku masih berdiri dengan berpegangan pada dinding kamar mandi. Mbak Sari menghentikan menjilati vaginaku dengan lidahnya. Mbak Sari lalu berdiri di belakang Mamaku dan menggesekkan kedua payudaranya ke punggung Mamaku. Kami bertiga saling berlomba dalam mendesah.

“Aaahh..”

Beberapa saat kemudian tubuh Mbak Sari meluncur turun ke dalam air. Mamaku lalu duduk dibawahku dan bersandar di tepi tub menghadap ke arah Mbak Sari. Dikangkangkannya kedua kakiku dan dijilatinya cairan-cairan kenikmatan yang semakin banyak keluar dari dalam vaginaku dengan lidahnya. Mbak Sari lalu duduk di pangkuan Mamaku. Kedua kakinya ditekuk dan menjepit pinggang Mamaku. Kedua payudaranya bergesekan dengan kedua payudara Mamaku.

Kali ini tubuhku meluncur turun ke dalam air. Mamaku dan Mbak Sari lalu berdiri dan saling membelai kedua payudara. Aku juga ikut berdiri. Mamaku menggeser tubuhnya agak menyamping dan tangan kanannya membelai pipiku. Sementara tangan kirinya membelai punggung Mbak Sari. Tangan kiri Mbak Sari juga membelai punggung Mamaku. Sedangkan tangan kanannya membelai payudara kanan Mamaku. Payudara kiri Mamaku sendiri menempel pada payudara kanan Mbak Sari.

“Hhhmm..” Desah Mamaku dan Mbak Sari.

Mamaku lalu menempelkan payudara kanannya ke payudara kiri Mbak Sari. Kedua payudara mereka berdua saling menggesek seiring dengan kedua lidah mereka yang saling berjilatan. Aku masih berdiri di belakang Mamaku dan menjilati telinga kanannya. Kedua payudaraku menggesek punggung Mamaku. Mamaku menolehkan kepalanya sehingga lidahnya menjilat lidahku. Sedangkan lidah Mbak Sari menjilati telingan kiri Mamaku.

Tanpa dikomando aku dan Mbak Sari bersamaan menurunkan jilatan lidah ke kedua payudara Mamaku. Aku menjilati puting payudara kanan Mamaku dan Mbak Sari menjilati puting payudara kiri Mamaku. Kami bertiga sama-sama juga pindah dan menurunkan pantat untuk duduk di lantai kamar mandi.

Mbak Sari masih menjilati puting payudara kiri Mamaku. Jari tengah tangan kirinya mengocok vagina Mamaku yang basah oleh cairan-cairan kenikmatan. Sedangkan aku kembali berjilatan lidah dengan Mamaku. Tangan kiriku merangkul leher Mamaku yang jatuh terlentang ke belakang. Payudara kiriku menempel ke payudara kanan Mamaku. Kedua tangan Mamaku juga aktif dalam membelai tubuhku dan juga tubuh Mbak Sari.

Jilatan lidah Mbak Sari turun ke bawah dan menjilati vagina Mamaku yang masih juga dikocoknya dengan jari tengah tangan kirinya. Sedangkan aku juga menurunkan jilatan lidahku ke puting payudara kanan Mamaku sambil tangan kananku meremas-remasnya. Sedangkan tangan kiriku mengambil dildo merah hati dan kugesekkan ke kedua payudaraku.

“Aaahh..” Desah Mamaku.

Kubungkam desahan Mamaku dengan mendudukinya. Vaginaku yang banyak mengeluarkan cairan-cairan kenikmatan dijilatinya dengan lidahnya. Sedangkan tangan kananku meremas-remas payudara kiriku. Kukulumkan dildo di tangan kiriku untuk membungkam jeritan-jeritan kenikmatan yang keluar dari mulutku. Mbak Sari masih menjilati vagina Mamaku dengan lidahnya sambil kedua tangannya meremas-remas kedua payudara Mamaku.

Aku turun dari kepala Mamaku dan duduk bersandar di dinding kamar mandi. Kumasukkan salah satu ujung dildo merah hati ke vaginaku. Mbak Sari menghampiriku dan duduk di depanku. Mbak Sari lalu memasukkan ujung dildo merah hati yang satunya ke vaginanya. Mamaku juga ikut duduk dan membenarkan posisi dildo merah hati yang masuk ke vaginaku dan vagina Mbak Sari.

Aku dan Mbak Sari tanpa dikomando saling dorong mendorong dildo merah hati tersebut. Kadang dildo merah hati itu masuk agak dalam ke dalam vaginaku. Kadang masuk agak dalam ke dalam vagina Mbak Sari. Mamaku hanya melihat aksi kami berdua dengan meremas-remas kedua payudaranya sendiri. Aku dan Mbak Sari juga meremas-remas sendiri kedua payudara.

“Aaahh..” Desah kami bertiga

Beberapa menit kemudian Mbak Sari mengeluarkan dildo merah hati dari dalam vaginanya. Cairan-cairan kenikmatan banyak keluar dari dalam vaginanya. Dikeluarkannya juga dildo merah hati dari dalam vaginaku yang juga mengeluarkan banyak cairan-cairan kenikmatan. Mbak Sari lalu menyilangkan kedua kakinya dengan kedua kakiku. Kelentit kami berdua saling menempel. Kuikuti goyangan tubuh Mbak Sari sehingga kedua kelentit kami saling bergesekan. Sedangkan Mamaku mengambil dildo merah hati. Setelah dikulumnya beberapa saat lalu dikocokkan ke dalam vaginanya. Kami bertiga secara serentak menjerit panjang.

“Aaahh.. Aaahh.. Aaahh..”.

Tante Rahayu

Posted: 16 Juli 2011 in Cerita Lesbi, Cerita Tante

Teman Ibuku itu bernama, Ibu Rahayu, biasa dipanggil dengan Ibu Ayu dan aku sendiri memanggilnya Tante Ayu. Karena hubungan yang sudah sangat dekat dengan Tante Ayu, ia sudah dianggap seperti saudara sendiri di rumahku.

Tante Ayu wajahnya sangat cantik, wajahnya tampak jauh lebih muda dari Ibuku karena memang usianya berbeda agak jauh. Usia Tante Ayu ketika itu sekitar 28 tahun. Selain cantik, Tante Ayu memiliki tubuh yang langsing, namun padat dan seksi.

Kejadian ini bermula ketika liburan semester, waktu itu kedua orang tuaku harus pergi ke Madiun karena ada perayaan pernikahan saudara. Karena aku dan Tante Ayu cukup dekat maka aku minta kepada ibuku untuk menginap saja di rumah Tante Ayu yang tidak jauh dari rumahku selama 5 hari itu. Dan kebetulan suami Tante Ayu juga sedang di luar kota, karena memang suaminya sering sekali ditugaskan ke luar kota, sehingga Tante Ayu sering sendirian di rumah.

Hari-hari pertama kulewati dengan ngobrol-ngobrol sambil bercanda-ria atau shopping berdua dengan Tante Ayu, sering juga kami bermain bermacam permainan seperti halma atau monopoli, karena memang Tante Ayu orangnya sangat pintar bergaul dengan siapa saja. Ketika suatu hari, sehabis makan siang, tiba-tiba Tante Ayu berkata kepadaku, “Sar.. kita main dokter-dokteran yuk.. sekalian Sari Tante periksa beneran, mumpung gratis..” Memang kata Ibuku, dahulu Tante Ayu pernah kuliah di fakultas kedokteran namun putus di tengah jalan karena menikah. “Ayoo..” sambutku dengan senang hati.

Kemudian Tante Ayu mengajakku ke kamarnya, lalu mengambil sesuatu dari lemarinya, rupanya ia mengambil stetoskop, mungkin bekas yang dipakainya ketika kuliah dulu. “Nah Sar, kamu buka deh bajumu, terus tiduran di ranjang,” bisik Tante Ayu. “Baik Tante,” kataku, lalu aku membuka kaosku, dan mulai hendak berbaring. Namun Tante Ayu bilang, “Lho.. BH-nya sekalian dibuka dong, biar Tante gampang meriksanya..” Aku yang waktu itu masih polos, dengan lugunya aku membuka BH-ku, sehingga kini terlihatlah buah dadaku yang masih mengkal. “Wah.. kamu memang benar-benar cantik Sar..” kata Tante Ayu. Kulihat matanya tak berkedip memandang buah dadaku, dan aku hanya tertunduk malu.

Setelah terlentang di atas ranjang, dengan hanya memakai rok mini saja, Tante Ayu mulai memeriksaku. Mula-mula di tempelkannya stetoskop itu di dadaku, rasanya dingin.., lalu Tante Ayu menyuruhku bernafas sampai beberapa kali, setelah itu Tante Ayu mencopot stetoskopnya.

Kemudian Tante Ayu tersenyum kepadaku, sambil tangannya menyentuh lenganku, lalu mengusap-usapnya dengan lembut, “Waah.. kulit kamu halus ya, Sar.. Kamu pasti rajin merawatnya,” katanya. Aku diam saja, aku hanya merasakan sentuhan dan usapan lembut Tante Ayu. Kemudian usapan Tante Ayu bergerak naik ke pundakku. Setelah itu tangan Tante Ayu merayap mengusap perutku. Aku hanya diam saja merasakan perutku diusap-usapnya, sentuhan Tante Ayu benar- benar terasa lembut, dan lama-kelamaan terus terang aku mulai jadi agak terangsang oleh sentuhannya, sampai-sampai bulu tanganku merinding dibuatnya.

Lalu Tante Ayu menaikkan usapannya ke pangkal bawah buah dadaku yang masih mengkal itu, mengusap mengitarinya, lalu mengusap buah dadaku. Ih.. baru kali ini aku merasakan yang seperti itu, rasanya halus, lembut dan geli, bercampur menjadi satu. Namun tidak lama kemudian, Tante Ayu menghentikan usapannya. Dan aku kira.. yah, hanya sebatas ini perbuatannya. Tapi kemudian Tante Ayu bergerak ke arah kakiku. “Nah.. sekarang Tante periksa bagian bawah yah..” katanya. Setelah diusap-usap seperti tadi yang terus terang membuatku agak terangsang, aku hanya bisa mengangguk pelan saja.

Saat itu aku masih mengenakan rok miniku, namun tiba-tiba Tante Ayu menarik dan meloloskan celana dalamku. Tentu saja aku keget setengah mati, ” Ih.. Tante, kok celana dalam Sari dibuka..?” kataku dengan gugup. “Lho.. khan mau diperiksa.. pokoknya Sari tenang aja..” katanya dengan suara lembut sambil tersenyum, namun tampaknya mata dan senyum Tante Ayu penuh dengan maksud tersembunyi. Tetapi saat itu aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa.

Setelah celana dalamku diloloskan oleh Tante Ayu, Tante Ayu duduk bersimpuh di hadapan kakiku. Tante Ayu tak berkedip menatap liang kewanitaanku yang masih mungil, dengan bulu-bulunya yang masih sangat halus dan tipis. Lalu kedua kakiku dinaikkan ke pahanya, sehingga pahaku menumpang di atas pahanya. Lalu Tante Ayu mulai mengelus-elus betisku, halus dan lembut sekali rasanya, lalu diteruskan dengan perlahan-lahan meraba pahaku bagian atas, lalu ke paha bagian dalam. Hii.. aku jadi merinding rasanya. “Tante..” suaraku lirih. “Tenang sayang.. pokoknya nanti kamu merasa enak..” katanya sambil tersenyum.

Tante Ayu lalu mengelus-elus selangkanganku, perasaanku jadi makin tidak karuan rasanya. Kemudian, dengan jari telunjuknya yang lentik, Tante Ayu menggesekkannya ke bibir kemaluanku dari bawah ke atas, “Aaahh.. Tantee..” jeritku lirih. “Ssstt.. hmm.. enak kan..?” katanya. Mana mampu aku menjawab, malahan Tante Ayu mulai meneruskan lagi menggesekkan jarinya berulang-ulang. Tentu saja ini membuatku makin nggak karuan, aku menggelinjang-gelinjang, mengeliat-ngeliat kesana-kemari. “Ssstthh.. aahh.. Tante.. aahh..” eranganku terdengar lirih, dunia serasa berputar-putar, kesadaranku bagaikan terbang ke langit. Liang kewanitaanku rasanya sudah basah sekali karena aku memang benar-benar terangsang sekali.

Setelah Tante Ayu merasa puas dengan permainan jarinya, Tante Ayu menghentikan sejenak permainannya itu, tapi kemudian wajahnya mendekati wajahku, aku yang antara sadar dan tidak sadar, hanya bisa melihatnya pasrah. Wajahnya semakin dekat, kemudian bibirnya mendekati bibirku, lalu ia mengecupku dengan lembut, rasanya geli-geli, lembut dan basah. Namun Tante Ayu bukan hanya mengecup, ia lalu melumat habis bibirku sambil memainkan lidahnya. Hii.. rasanya jadi makin geli apalagi ketika lidah Tante Ayu memancing lidahku, sehingga aku tidak tahu kenapa, secara naluri jadi terpancing, sehingga lidahku dengan lidah Tante Ayu saling bermain, membelit-belit, tentu saja aku jadi semakin nikmat kegelian.

Kemudian Tante Ayu mengangkat wajahnya dan memundurkan badannya. Entah apa lagi pikirku, aku toh sudah pasrah. Dan eh.. gila.. Tante Ayu menyeruakkan kepalanya ke selangkanganku, kedua pahaku diletakkan di atas pundaknya, sehingga kedua paha bagian dalamku seperti menjepit kepala Tante Ayu. Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Tante Ayu mulai menjilati bibir kemaluanku. “Aaa.. Tantee..!” aku menjerit, walaupun lidah Tante Ayu terasa lembut, namun jilatan Tante Ayu itu terasa menyengat liang kewanitaanku dan menjalar ke seluruh tubuhku, namun Tante Ayu justru menjilati habis-habisan bibir kemaluanku, lalu lidahnya masuk ke dalam liang kewanitaanku dan menari-nari di dalam liang kewanitaanku. Lidah Tante Ayu mengait-ngait kesana-kemari menjilat-jilat seluruh dinding kemaluanku. Tentu saja aku makin menjadi-jadi, menjerit-jerit tidak karuan, “Aaahh.. Tantee.. aa.. auu.. aahh..!” Aku menggelinjang-gelinjang seperti kesurupan, menggeliat kesana-kemari merasakan kegelian bercampur dengan kenikmatan yang amat sangat. Namun Tante Ayu dengan kuat memeluk kedua pahaku di antara pipinya, sehingga walaupun aku menggeliat kesana-kemari, namun Tante Ayu tetap mendapatkan yang diinginkannya.

Jilatan-jilatan Tante Ayu benar-benar membuatku bagaikan orang lupa daratan, liang kewanitaanku sudah benar-benar banjir dibuatnya, membuat Tante Ayu menjadi semakin liar, ia bukan cuma menjilat-jilat, bahkan menghisap, menyedot-nyedot liang kewanitaanku. Cairan lendir liang kewanitaanku bahkan disedot Tante Ayu habis-habisan. Sedotan Tante Ayu di liang kewanitaanku sangat kuat, membuatku jadi samakin kelonjotan.

Kemudian Tante Ayu sejenak menghentikan jilatannya. Dengan jarinya ia membuka bibir kemaluanku, lalu disorongkan sedikit ke atas. Aku saat itu tidak tahu apa maksud Tante Ayu, rupanya Tante Ayu mengincar klitorisku. Tante Ayu menjulurkan lidahnya, lalu dijilatnya klitorisku, “Aaahh..” tentu saja aku menjerit keras sekali, aku merasa seperti kesetrum, karena ternyata itu bagian yang paling sensitif buatku. Begitu kagetnya aku merasakannya, aku sampai menggangkat pantatku. Tante Ayu malah menekan pahaku ke bawah, sehingga pantatku nempel lagi ke kasur, dan terus menjilati klitorisku sambil dihisap-hisapnya, “Aaa.. aauuhh.. aahh..!” jeritku semakin menggila.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang amat sangat, yang ingin keluar dari dalam liang kewanitaanku, seperti mau kencing, dan aku tak kuat menahannya, namun Tante Ayu yang sepertinya sudah tahu, malahan menyedot klitorisku dengan kuatnya sehingga, “Tantee.. aahh..!” tubuhku terasa tersengat tegangan tinggi, seluruh tubuhku menegang, tak sadar kujepit dengan kuat pipi Tante Ayu dengan kedua pahaku di selangkanganku. Lalu tubuhku bergetar bersamaan dengan keluarnya cairan liang kewanitaanku, banyak sekali dan tampaknya Tante Ayu tidak menyia- nyiakannya, disedotnya liang kewanitaanku, dihisapnya seluruh cairan yang keluar dari liang kewanitaanku. Tulang-tulangku terasa lolos, lalu tubuhku terasa lemas sekali.

Tante Ayu kemudian memelukku, lalu mengecup bibirku. “Gimana Sar.. enak khan..?” Namun aku sudah tak mampu menjawabnya, nafasku tinggal satu-satu, aku hanya bisa mengangguk sambil tersipu malu. Aku tidak percaya bisa diperlakukan begini oleh Tante Ayu, dan tidak pernah kusangka, karena sehari-hari Tante Ayu tampak begitu cantik dan anggun. Dan akhirnya aku yang sudah amat lemas terlelap di pelukan Tante Ayu.

Setelah kejadian itu, pada mulanya aku benar-benar merasa gamang, perasaan-perasan aneh berkecamuk dalam diriku, walaupun ketika waktu itu, saat aku bangun dari tidurku Tante Ayu telah berupaya menenangkanku dengan lembut. Namun entah kenapa, setelah beberapa hari kemudian, kok rasanya aku jadi kepengin lagi, abisnya kalau diingat-ingat sebenarnya enak sich hi.hi.hi.. Jadi sepulang sekolah aku mampir ke rumah Tante Ayu, tentu saja aku malu mengatakannya, aku hanya pura-pura ngobrol kesana-kemari, sampai akhirnya Tante Ayu menawarkan lagi untuk main-main seperti kemarin dulu, barulah aku menjawabnya dengan mengangguk malu-malu.

Memori Tak Terlupakan

Posted: 16 Juli 2011 in Cerita Lesbi

Nama saya Anggi. Saya bekerja sebagai manager di salah satu perusahaan multinational yang cukup terkenal di Indonesia. Sudah lama saya tertarik untuk menceritakan pengalaman pribadi saya yang terjadi kira-kira 7 tahun yang lalu di situs ini. Tapi karena kesibukan saya di kantor yang akhirnya baru memberikan kesempatan pada saya untuk menulis sekarang ini.

Saya memang bukan pengagum sesama wanita yang sejati, karena saya juga menyukai pria. Dan kejadian ini adalah yang pertama yang saya rasakan dan saya lakukan selama 2 tahun, dimana wanita ini benar-benar telah membuat saya jatuh cinta dengan sesama jenis. Dan cinta itu masih saya rasakan sampai sekarang, sekalipun kami sudah berpisah 5 tahun yang lalu tanpa kami pernah bertemu lagi. Dia bidadari pertama yang pernah saya jumpai dan membuat saya bertekuk lutut dan tidak pernah dapat berhenti untuk mencintainya.

Kejadiannya berawal 7 tahun yang lalu ketika saya masih menjalani kuliah di negara kangguru, Australia. Waktu itu saya sudah ada di tahun kedua kuliah saya, yang berarti saya hanya tinggal menyelesaikan setahun lagi untuk mendapat gelar Sarjana. Tapi saya sendiri sudah tinggal di kota Sydney lebih dari 4 tahun sampai saya bertemu Cindy di tahun kedua kuliah saya.

Cindy adalah pendatang baru dari Jakarta waktu itu. Cindy baru menyelesaikan pendidikan SMA-nya di Jakarta dan langsung ke Sydney untuk meneruskan kuliahnya. Karena jauh terpautnya usia kami, yaitu 9 tahun, maka kami berdua pun tidak pernah menyangka bahwa kami akan dapat saling tertarik dan jatuh cinta. Apalagi cinta sesama jenis ini belum pernah kami rasakan dan kami lakukan sebelumnya.

Terlebih lagi, saya telah mempunyai pacar seorang pria yang sangat tampan dan pinta (berdasarkan kenyataan dan menurut pendapat semua teman-teman dan juga keluarga saya). Ketampanan pacar saya terbukti dengan banyaknya teman-teman wanitanya, baik orang Indonesia ataupun bule-bule Australia yang mengutarakan langsung keinginan mereka untuk menjadi pacar Rico (bukan nama sebenarnya).

Kami memang tinggal berlainan kota. Saya kuliah di Sydney, sedangkan Rico kuliah di kota Canberra. Kami bertemu minimal sekali dalam sebulan dan biasanya Rico selalu menginap di apartemen saya kalau dia sedang mengunjungi saya di Sydney. Saya sangat mencintai Rico karena dia adalah cinta pertama saya dan pada Rico lah saya berikan kegadisan saya. Saya pernah berpikir bahwa saya tidak mungkin dapat hidup tanpa Rico.

Banyak pria yang saya temui di Australia yang ingin menjadi pacar saya termasuk orang-orang bule di sana, tapi waktu itu hati dan cinta saya hanya untuk Rico. Tapi setelah Cindy muncul dalam kehidupan saya, semuanya jadi berubah total dan saya baru dapat merasakan apa yang dinamakan mencintai dan dicintai, dimana segalanya begitu indah untuk dijalani dan dirasakan.

Cindy sebenarnya adalah teman sekelas adik saya. Adik saya ini datang menyusul saya ke Sydney juga untuk melanjutkan kuliah. Setelah 4 tahun saya hidup sendiri atau sharing apartemen bersama orang bule (baik sesama pelajar atau saya tinggal bersama keluarga Australia di sana), akhirnya saya memutuskan untuk menyewa apartemen sendiri bersama adik saya.

Kami berdua menyewa apartemen dengan 2 kamar tidur dan 1 kamar mandi. Kamar tidur saya jauh lebih besar dibandingkan kamar tidur adik saya, sehingga siapapun yang ingin menginap di apartemen kami akan tidur di kamar saya, terutama kalau jumlahnya lebih dari 2 orang. Tapi kalau hanya 2 orang biasanya akan kami bagi menjadi 2, yaitu 1 orang tidur bersama adik saya dan 1 orang lagi bersama saya, sehingga kami tidak memerlukan kasur tambahan.

Karena kami hanya hidup berdua di negara orang, maka teman-teman saya adalah teman adik saya juga dan begitu juga sebaliknya. Terus terang, saya tidak ingin adik saya terjerumus dengan pergaulan yang tidak baik di sana. Oleh karena itu, dengan cara yang halus saya mendekatkan diri pada teman-temannya dan juga mengenalkan dia pada teman-teman saya.

Setelah saya tinggal berdua dengan adik saya ini, otomatis pertemuan saya dengan Rico menjadi lebih jarang, karena Rico tidak dapat lagi menginap di rumah saya. Kalaupun Rico ingin bertemu saya lebih lama dari sekedar mengobrol, biasanya kami menginap di hotel. Saya tidak ingin memberi contoh yang jelek kepada adik saya dengan membiasakan pacar-pacar kami menginap di apartemen kami. Disamping itu, Rico pun sibuk dengan pembuatan skripsinya karena tahun itu adalah tahun terakhirnya di Australia sebelum akhirnya dia lulus kuliah dan pulang ke Jakarta setahun lebih awal dari saya sendiri. Pada saat itulah saya berkenalan dengan Cindy.

Waktu itu udara di Sydney cukup dingin karena memang pertengahan winter. Dengan memakai sweater dan jaket, saya turun dari bis dan berlari kecil menuju rumah. Bayangan segelas hot chocolate sudah menari-nari di pelupuk mata saya dan sudah terasa di tenggorokan saya nikmatnya. Membayangkan hal itu, saya benar-benar ingin cepat sampai di apartemen, karena udara di luar makin bertambah dingin.

Hari itu cukup melelahkan karena banyaknya tugas kuliah yang harus saya kerjakan di perpustakaan kampus. Saya sendiri baru meninggalkan perputakaan sekitar pukul 9 malam, waktu pegawai di sana mengingatkan bahwa mereka akan tutup. Begitu sampai di depan gedung apartemen, saya melihat lampu apartemen saya sudah terang, menandakan bahwa adik saya juga sudah pulang. Kami berdua memang sering pulang malam atau malah menginap di rumah teman karena banyaknya tugas-tugas kuliah yang harus kami kerjakan secara berkelompok.

Tapi nampaknya malam itu adik saya membawa beberapa temannya ke rumah. Apartemen saya ada di lantai dasar, sehingga suara dan ketawa mereka dapat terdengar dari luar. Tentu saja dalam bahasa Indonesia. Tapi suara mereka langsung berhenti ketika saya memutar kunci dan membuka pintu apartemen. Dan memang benar dugaan saya kalau saya kedatangan 2 orang tamu, yaitu teman-teman adik saya.

Mereka terlihat langsung menjaga prilaku mereka ketika mereka tahu kalau kakak dari si empunya apartemen itu sudah pulang dan pastinya dalam keadaan sangat lelah karena memang jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Seperti yang lainnya, mereka memberi salam dengan panggilan Mbak ke saya dan saya balas dengan anggukan dan senyuman. Bayangan hot chocolate masih mendominasi pikiran saya malam itu. Lalu saya cepat-cepat berganti pakaian rumah (tentunya masih memakai sweater..!) dan pergi ke dapur untuk merealisasikan impian saya itu.

15 menit kemudian saya sudah bergabung dengan mereka di ruang tamu yang juga merangkap sebagai ruang TV atau keluarga. Baru saya sadari bahwa tamu-tamu adik saya ini belum pernah datang sebelumnya, dan salah satu dari mereka telah menarik perhatian saya dan yang akhirnya saya tahu kalau namanya Cindy. Saya sangat menyukai caranya dia berbicara atau ketika sedang bercerita. Tapi dari semua itu, mata Cindy lah yang membuat saya ingin mengenalnya lebih dekat.

Saya memang tidak pandai membaca pandangan mata, tapi entah kenapa setiap kami mengobrol dan tidak sengaja bertatapan, ada perasaan yang lain dalam hati saya. Entah apa, tapi yang pasti makin kami sering bertemu dan semakin saya mengenalnya, saya semakin menyayanginya.

Ketidakhadiran Rico di akhir pekan tidak lagi menjadi masalah bagi saya. Padahal biasanya saya akan uring-uringan jika Rico bilang tidak dapat datang mengunjungi saya. Biasanya Rico harus merayu saya supaya saya mau mengerti dan tidak marah berkepanjangan. Entah kenapa, sejak Cindy sering menginap di rumah, saya cukup melepas rindu saya pada Rico melalui telpon. Mungkin karena kesibukannya dalam menyelesaikan skripsinya Rico tidak merasa curiga atau mempermasalahkan perubahan sikap saya.

Sekalipun kami makin jarang bertemu, saya tetap menghubunginya secara rutin lewat telpon. Hubungan saya sendiri dengan Cindy semakin dekat dan saya juga mulai merasakan perhatiannya pada saya. Tapi hanya sebatas itu, karena kami berdua memang sama-sama tidak berani memulainya. Saya rasa, pandangan mata kami yang lebih sering berbicara kalau sebenarnya kami saling mencintai. Tapi mungkin perasaan saya pada Cindy terlalu besar sehingga saya tidak mampu untuk menutupinya lebih jauh.

Setiap kami bersentuhan lengan, hati saya langsung berdebar-debar dan mengharapkan lebih dari itu. Oh ya, Cindy selalu tidur bersama saya setiap dia menginap di rumah. Dia selalu datang berdua dengan teman satu apartemennya dan temannya tidur di kamar adik saya. Tapi sejauh itu tidak ada yang kami lakukan selain mengobrol sebelum tidur atau setelah bangun tidur. Sampai pada suatu hari, saya merasa cemburu padanya waktu kami pergi beramai-ramai dan Cindy membawa 2 teman kuliah prianya yang berasal dari Korea.

Sepanjang jalan dia bersenda gurau bersama teman Korea-nya itu dan seakan-akan saya tidak dihiraukannya. Saya benar-benar sedih dan marah, tapi saya tahu kalau saya tidak punya hak untuk marah dan akhirnya saya hanya dapat diam sepanjang perjalanan kami sampai kami pulang ke rumah saya. Cindy malam itu juga menginap di rumah seperti biasanya. Tapi malam itu, begitu kami sampai saya langsung mandi dan masuk ke kamar untuk tidur. Saya tidak mempunyai keinginan lagi untuk mengobrol karena saya masih merasa cemburu yang teramat sangat.

Esok paginya saya bangun agak siang, sekitar pukul 9 dan saya yakin adik saya sudah pergi kuliah bersama teman Cindy. Tapi Cindy masih ada di samping saya ketika saya bangun. Dia memiringkan badannya dan menghadap saya yang masih tidur telentang. Saya cukup kaget ketika terbangun dan Cindy sedang memperhatikan saya. Dia memberikan senyum tercantiknya untuk saya pagi itu. Ingin sekali rasanya saya mencium dan memeluknya. Tapi itu tidak mungkin saya lakukan. Paling tidak, saya belum berani melakukannya.

Melihat dia tersenyum sambil menatap saya, langsung saya tanyakan alasannya, Ada apa? Kenapa kamu senyum-senyum kaya gitu? Jam berapa kamu bangun?
Nothing. Seneng aja ngeliat kamu tidur? Saya ngga bisa tidur semaleman.
Kenapa ngga bisa tidur? Abis dapat telpon dari Jakarta lagi? Mama sama Papa kamu bertengkar lagi?

Saya bisa sangat dekat dengan Cindy karena Cindy banyak bercerita tentang keluarganya, juga tentang orang tuanya yang sering bertengkar. Cindy anak tertua dari 2 bersaudara. Adiknya laki-laki.

Cindy menggeleng.
Trus, kenapa ngga bisa tidur? tanya saya sambil saya menatap balik ke Cindy dan dia terdiam beberapa saat sebelum berkata-kata yang membuat saya sangat terkejut tapi juga sangat senang.
Hhmm.. kamu marah yach sama saya?
Sambil menanyakan hal ini Cindy menundukkan kepalanya tanpa berani menatap mata saya. Posisi badan kami belum berubah, dimana badan Cindy masih miring menghadap ke saya yang masih tidur telentang.

Pelan-pelan saya mengangkat dagu Cindy sehingga kami bertatapan dan saya balik bertanya, Dari mana kamu tau kalau saya marah sama kamu?
Kamu ngediemin saya dari kemaren waktu kita jalan-jalan. Kamu ngga ngajak ngomong saya sedikit pun. Begitu pulang pun kamu langsung tidur abis mandi. Biasanya kita selalu punya waktu untuk ngobrol. Kamu cemburu yach sama temen-temen Korea saya itu?

Saya benar-benar kaget dengan kalimat Cindy yang terakhir, tapi saya pikir ini saatnya saya harus berkata jujur pada Cindy. Tapi saya mulai pengakuan saya dengan anggukan kepala untuk membenarkan bahwa memang saya cemburu, sekaligus melihat reaksi dan jawaban dari Cindy. Dan jawabannya benar-benar membuat saya bahagia.

Saya khan cuman berteman sama mereka. Saya ngga punya hubungan apa-apa sama mereka. Kemarin itu mereka cuman minta diceritain tentang pulai Bali dan Jakarta dan saya bilang turis di Bali cantik-cantik, rugi kalau mereka ngga pernah datang ke Bali. Kamu jangan cemburu buta gitu dong dan kamu tuch ngga perlu cemburu sama siapa pun. Saya yang seharusnya cemburu kalau ngeliat kamu lagi ngobrol di telpon sama Rico. Tapi saya tau kalau saya ngga punya hak untuk marah.

Saya benar-benar kaget tapi juga bahagia mendengar semua pengakuan Cindy dan saya benar-benar yakin kalau cinta saya tidak bertepuk sebelah tangan. Saya mulai memberanikan diri untuk menariknya dalam pelukan saya dan Cindy tidak menolaknya. Sambil berada di pelukan saya, berbagai pertanyaan saya tanyakan pada Cindy.

Cind, kamu sayang sama saya?
Dan saya lihat Cindy mengangguk.
Boleh saya sayang kamu juga Cind?
Kali ini Cindy menatap saya dan balik bertanya, Benar kamu juga sayang sama saya? Gimana sama Rico?
Saya akan minta putus sama Rico karena saya benar-benar sayang sama kamu dan saya tidak bisa membina dua hubungan dalam waktu yang bersamaan sekalipun sayang saya ke kamu berbeda dengan sayang saya ke Rico.

Tiba-tiba Cindy mencium pipi saya dan merebahkan kepalanya di dada saya. Mungkin dia dapat mendengarkan debar jantung saya yang mengatakan betapa bahagianya perasaan saya pada pagi hari itu. Saya membelai rambut Cindy yang tergerai panjang sebahu. Tangan Cindy pun mulai terasa membelai paha saya. Terus terang, saya menyadari kalau saya termasuk type wanita yang mempunyai dorongan sexual yang tinggi. Sedikit saja saya disentuh, saya akan meminta lebih dari itu sampai saya dapat menuntaskan kebutuhan sexual saya, tapi tentunya dengan pacar saya sendiri.

Mendapat belaian tangan Cindy di daerah paha saya, langsung saya menghadapkan wajah Cindy menghadap saya dan saya cium bibirnya. Saya tahu saya yang pertama untuk Cindy dan dia belum tahu caranya berciuman. Maka saya mencoba untuk merangsangnya dengan membuka mulutnya dengan lidah saya dan saya mainkan lidah saya di dalam rongga mulutnya. Saya mengait-ngait lidahnya untuk dapat saya kulum dan saya hisap. Oohh.., nikmat sekali rasa lidahnya dalam kuluman lidah saya, dan Cindy mulai terengah-engah dengan sensasi sexual yang baru pertama dialaminya.

Cindy nampak mulai kehabisan napas ketika saya mulai mengulum dan menghisap lidahnya dengan sangat bernafsu. Tangan saya pun tidak tinggal diam, tapi mulai meraba payudara Cindy yang ternyata cukup besar, yaitu 36B dan saya sendiri 34A. Kami memang tidak pernah memakai BH kalau tidur, jadi saya dapat langsung merasakan kelembutan payudara Cindy di tangan saya. Nafsu saya untuk mengungkapkan perasaan cinta saya ke Cindy telah melupakan perasaan aneh karena memainkan payudara wanita lain. Malah sebaliknya, begitu saya memainkan payudara Cindy yang indah itu, nafsu saya makin bertambah untuk memberikan kepuasan pada Cindy disamping perasaan saya sendiri yang sudah sangat terangsang tentunya.

Cindy dengan napas terengah-engah mendorong saya pelan untuk menghentikan kuluman saya pada lidahnya.
Gila kamu, saya sampai kehabisan napas kamu ciumin seperti itu.
Kamu ngga suka Cind? Kamu marah? Kalau kamu ngga suka, kita ngga usah ngelakuin ini dan hal ini ngga akan ngerubah perasaan saya ke kamu.
Saya memang agak khawatir kalau-kalau Cindy tidak menyukai hal ini. Tapi ternyata saya keliru.

Kamu lebih gila lagi kalau kamu pikir saya ngga suka dengan semua yang kamu lakuin ke saya barusan. Saya malah mau bilang untuk jangan pernah berhenti, tapi saya juga mau kamu ajarin saya karena saya pengen bisa nyenengin kamu juga.
Saya sendiri baru sekali ini making love sama perempuan Cind, pernah ngebayangin pun ngga. Mungkin karena saya sayang banget sama kamu makanya saya bisa ngelakuin ini semua sama kamu. Cindy, boleh ngga saya senengin kamu sekarang ini dan kamu ngga usah mikirin caranya nyenengin saya juga. Kamu nikmatin aja dan kamu ikutin perasaan kamu. Boleh kan sayang?

Saya mulai memanggilnya dengan kata sayang ke Cindy dan dia menyukai panggilan itu yang dipakainya juga untuk memanggil saya. Dia hanya mengangguk sambil melingkarkan sebelah tanganya ke leher saya dan saya dekatkan wajah saya ke wajah Cindy dan saya mulai mencium bibirnya yang sexy dan menggemaskan itu kembali. Tapi kali ini saya kulum dengan perlahan dan tangan saya pun mulai kembali bergerilya.

Sambil mengulum bibirnya, tangan saya mulai saya selipkan di balik kaos tidurnya dan mulai meraba-raba payudara Cindy yang halus terasa di kulit jari-jari saya. Jari-jari saya pun mulai memainkan puting susunya yang sudah mengeras dan Cindy mulai mengerang dan napasnya makin memburu karena rangsangan di puting dan payudaranya.

Aagh.. Sayang..! Suck my nipples, please.. agh.., please..! erang Cindy ketika jemari saya dengan lincahnya memainkan puting payudaranya.
Mendengar permohonannya, saya berhenti mencium bibirnya dan tangan saya pun saya tarik keluar dari balik kaos tidurnya. Lalu saya mulai menarik kaosnya ke atas melalui kepalanya dan juga saya tarik celana pendeknya ke bawah beserta dengan celana dalamnya. Sekarang Cindy sudah bertelanjang bulat di depan saya dan saya benar-benar mengagumi badannya yang sintal dan tidak kurus.

Dengan bergegas Cindy pun mulai ikut melepaskan pakaian tidur saya satu persatu hingga kami berdua sama-sama telanjang tanpa sehelai benang pun yang menutupi badan kami. Karena masih dalam musim dingin kami mulai merasa kedinginan, sekalipun badan kami masih di bawah selimut. Saya merengkuh badan Cindy dan memeluknya dengan erat sehingga kami dapat merasakan kehangatan badan kami satu sama lain. Kami kembali berciuman dan puting susu kami saling bergesekan yang memberikan sensasi tersendiri yang membuat kami berdua menjadi lebih terangsang.

Ciuman saya mulai berpindah ke leher Cindy yang putih dan cukup jenjang dan juga sangat menggoda libido untuk menciuminya. Saya mulai menciumi dan menjilati lehernya yang sexy itu. Tangan saya pun mulai kembali menggeranyangi payudara Cindy dengan meraba-raba dan meremas daging yang kenyal dan hangat itu. Cindy mulai kembali terangsang dan megerang, terlebih ketika saya mulai memainkan puting susunya dengan memijat dan memutar-mutarnya. Putingnya terasa makin mengeras dan membengkak di antara jari-jari saya.

Ciuman saya berpindah naik ke daun telinganya yang mulai saya ciumi dan saya jilati bagian dalamnya. Begitu lidah saya menyentuh telinga bagian dalamnya, napas Cindy makin memburu dan terengah-engah. Setelah beberapa saat saya mainkan lidah saya di bagian dalam telinganya, saya rasakan badan Cindy mengejang beberapa saat untuk kemudian melemah. Saya yakin Cindy telah mengalami klimaksnya yang pertama, tapi saya tidak berhenti sampai di situ. Saya ingin pagi itu menjadi hari yang tidak pernah terlupakan bagi Cindy.

Lantas ciuman saya berpindah ke arah payudaranya. Menciumi payudaranya yang kenyal sambil sebelah tangan saya tetap memainkan payudaranya dan juga putingnya yang sebelah lagi. Cindy mulai terangsang kembali ketika saya mulai menciumi dan menggigit perlahan payudaranya yang kenyal itu.

Perlahan-lahan lidah saya mulai saya julurkan dan menjilat putingnya yang sudah sangat mengeras. Cindy menjerit kecil ketika lidah saya menyentuh puting susunya dan mulai terengah-engah ketika saya mulai menjilatinya berulang-ulang dengan intens.
Aahh.. Sayang, jangan berhenti. Uugghh.., enak sekali Sayang. Aagh..!
Mendengar rintihannya, nafsu saya makin besar untuk memberikan kepuasan pada wanita yang sangat saya cintai ini.

Putingnya yang berwarna pink dan sudah mengeras mulai saya hisap perlahan dan makin lama makin dalam yang membuat Cindy makin menjerit dan terengah-engah serta mengerang tidak karuan. Semuanya makin menjadi ketika saya mulai menggigit-gigit putingnya dengan lembut. Yang saya kira Cindy akan merasa sakit karena untuk pertama kalinya puting susunya digigit, ternyata malah sebaliknya. Dia menekan kepala saya lebih dalam ke payudaranya dan memohon saya untuk menggigit putingnya lebih keras.

Takut dia akan merasa sakit, tangan saya yang sedang bermain dengan payudara dan putingnya yang sebelah kanan saya arahkan ke selangkangan Cindy yang saya yakin sudah amat basah dengan maksud untuk menambah rangsangan pada Cindy. Dugaan saya benar. Vagina Cindy sudah basah kuyup dengan lendir kewanitaannya yang keluar akibat dari orgasmenya yang pertama dan rangsangan-rangsangan yang masih dirasakannya. Saya ingin sekali mencicipi lendir kewanitaan Cindy, tapi saya ingin membuat lendir itu lebih banyak lagi.

Jilatan di puting payudara Cindy makin sering saya lakukan bergantian dengan gigitan-gigitan lembut dan kasar, dan kali ini ditambah dengan jari-jari saya yang menari di antara bibir-bibir vaginanya. Uugh.. sangat lembab dan hangat vagina Cindy di jari-jari saya, tapi juga begitu sensual yang saya rasakan. Jari telunjuk saya menari berputar-putar di sekitar dan di depan lubang vagina Cindy yang tidak henti-henti mengeluarkan lahar panasnya.

Saya gemas sekali dan ingin cepat-cepat turun ke bawah mencicipi lendir kewanitaannya. Tapi saya juga tahu kalau Cindy ingin mencapai orgasme keduanya dan saya tidak tega untuk menghentikannya dan itu tidak mungkin saya lakukan kepada wanita yang saya cintai ini. Sambil tetap menjilati dan menggigit puting susunya secara bergantian, ujung jari telunjuk saya mengambil cairan lendir kewanitaannya untuk kemudian saya taruh di klitorisnya dan jari telunjuk itu mulai saya mainkan dengan membuat gerakan melingkar di atas klitoris Cindy.

Reaksi Cindy seperti yang sudah saya bayangkan sebelumnya bahwa dia akan menjerit menerima kocokan telunjuk saya di klitorisnya.
Aaghh.. Sayang, apa yang kamu lakukan..? Ouughh.., just dont stop it.. Aacch..!
Badan Cindy mulai bergelinjang dengan hebat dan permainan lidah saya mulai saya tingkatan menjadi hisapan-hisapan dan gigitan yang dalam pada puting payudara Cindy. Cindy begitu terangsang sampai menarik kepala saya lebih dalam ke payudaranya dan juga menjepit jari-jari saya yang ada di selangkangannya.

Aacchh.. Sayang..! Cindy menjerit panjang sambil menaikkan pantat dan pinggulnya bersamaan dengan mengalirnya lahar panas dari vaginanya yang turun membasahi jari-jari saya.
Saya tarik jari-jari itu dari selangkangan Cindy dan saya jilat jari telunjuk saya yang basah oleh lendir orgasme Cindy.
Saya bisikkan kata-kata mesra di telinga Cindy yang sedang terengah-engah dan mencoba mengatur napasnya kembali.
You taste so nice, darling..! sambil saya ciumi telinga dan leher Cindy.

Beberapa saat kemudian Cindy menggeliat karena helaan napas saya di telinganya. Vagina saya mulai terasa sensitif, basah dan membengkak menahan keinginan saya untuk dicumbu oleh Cindy. Tapi saya tahu bahwa Cindy belum mahir atau mungkin belum tahu caranya. Tapi sialnya, Cindy menjamah vagina saya dengan jari-jarinya yang membuat saya sedikit terkejut dan mengejang menerima sentuhannya. Cindy pun ternyata kaget mendapati vagina saya sudah bengkak dan sangat basah.

Sayang, punya kamu udah basah banget kaya vagina Cindy. Boleh ngga Cindy lakuin kaya yang kamu lakuin ke Cindy tadi..? Please..?
Boleh, asal memang kamu juga mau ngelakuinnya dan bukan cuman karena pengen nyenengin saya.
Kok kamu ngomongnya gitu sich, Sayang. Kalau Cindy mau ngelakuin yach karena Cindy sayang sama kamu dan Cindy cuman mau kamu ngerasain senang cuman dari Cindy seorang dan bukan dari orang lain.

Cindy tidak lagi menunggu jawaban saya, tapi langsung menyambar mulut saya dan melumat bibir saya dengan penuh nafsu. Ternyata Cindy seorang Quick Learner karena ciuman, lumatan dan hisapan lidahnya di dalam mulut saya begitu merangsang dan saya tidak sanggup untuk menunggu lebih lama lagi. Tangan Cindy saya raih dan saya letakkan di payudara saya. Cindy mengerti maksud saya.

Sambil menghisap lidah saya, Cindy mulai meremas payudara saya dan memainkan kedua puting saya bergantian.
Uughh.. ach.. Sayang, please..! Bite my nipples, please..!
Cindy langsung menurunkan mulutnya untuk kemudian melumat puting payudara saya yang sudah benar-benar mengeras.
Ach.. Sayang, oh ya Sayang..! kata-kata itu berulang kali saya ucapkan ketika mulut Cindy mulai menjilati dan menghisap dalam puting payudara saya bergantian dengan gigitan-gigitannya.

Akhirnya saya benar-benar tidak kuat untuk menahan orgasme saya, tapi hal itu tidak boleh terjadi karena saya ingin mencapai klimak saya bersamaan dengan Cindy. Lalu Cindy saya tarik ke atas dan saya rebahkan badannya sehingga saya berada di atasnya lagi. Saya tatap wajah Cindy yang imut-imut dan menggemaskan itu.
Kok kamu berhentiin saya? Saya yakin kamu belum mendapatkan kepuasan seperti yang saya rasakan tadi kan? Kenapa? Ngga enak yach permaianan saya?
Wajah Cindy benar-benar menggemaskan saya karena dia begitu terheran-heran melihat saya menghentikan aktivitasnya.

Sayang, kamu hampir bikin saya nyampai klimaks, tau ngga..?
Trus..? Kok kamu minta Cindy berhenti..?
Saya tuch ngga mau klimaks sendirian, saya pengen kita sama-sama ngerasain klimaks.
Tapi Cindy kan udah dua kali kamu bikin klimaks, sedangkan kamu sekali aja belum. Ive been unfair to you.
Who cares about being fair? Saya sayang kamu Cind, ngeliat kamu senang itu udah bikin saya senang. Kamu senang ngga dengan semua yang saya lakuin ke kamu tadi?

Cindy tidak langsung menjawab tapi langsung melumat bibir saya dan memasukkan lidahnya ke mulut saya untuk kemudian menghisap lidah saya.
Itu tanda terima kasih saya dan jawaban saya kalau saya tuch sukaa.. banget dan saya pasti bakalan ketagihan. Gimana kalau saya tiap malam minta kamu ngelakuin semua itu ke saya? Apa kamu sanggup?
Cindy tertawa-tawa sambil mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda saya. Wah.., ternyata dia belum tahu tentang tingginya nafsu sexual saya, kata saya dalam hati.

Kalau ternyata kamu yang kewalahan dalam menuhin keinginan sexual saya gimana? tanya saya balik pada Cindy.
Ahh.. saya tidak mungkin kewalahan karena saya pasti akan menikmati semuanya sama kamu. jawab Cindy dengan gaya yang dibuat-buat sedikit sombong dan membuat saya makin gemas melihatnya.

Tanpa berkata-kata lagi, bibir Cindy langsung saya lumat kembali di dalam mulut saya dan lidah saya mulai saya julurkan ke dalam mulutnya untuk mencari lidahnya. Akhirnya lidah kami saling melumat, menghisap dan mengait-ngait yang membuat napas kami mulai memburu karena menahan rangsangan-rangsangan yang hebat supaya kami tidak mencapai orgasme terlalu cepat. Badan saya masih berada di atas badan Cindy dan ciuman saya turun beralih ke payudara Cindy. Saya begitu menyukai puting dan payudara Cindy yang di mata saya sangat sexy dengan paduan yang serasi antara putingnya yang berwarna pink dengan kulitnya yang putih.

Tidak bosan-bosannya saya mencium, menjilat, menghisap dan mengigit puting payudara Cindy yang tanpa saya sadari menjadi bagian sensitif bagi Cindy setelah vaginanya. Cindy mulai mengerang-ngerang dan menjerit kembali ketika lidah saya mulai menjilati putingnya silih berganti dengan hisapan dan gigitan. Tangannya sudah mulai mengacak-ngacak rambut saya dan menekan kepala saya ke payudaranya agar saya muali mgenggigit lebih keras putingnya.

Sambil mencumbu payudaranya yang indah, tangan saya turun ke selangkangan Cindy dan merentangkan kedua pahanya sehingga Cindy dalam keadaan mengangkang dan badan saya ada di tengah kedua pahanya yang terbuka lebar. Melihat Cindy yang sudah mulai sangat terangsang, ciuman saya mulai beralih turun dan satu persatu saya mulai menciumi perut dan terus ke bawah.

Cindy sudah mulai dapat mengatur napasnya kembali ketika mulut saya sudah menjauhi kedua payudaranya dan beralih ke daerah perutnya. Setiap badan Cindy saya nikmati dan menciuminya lembut dan menjilatnya sampai ke pangkal pahanya. Napas Cindy mulai tidak teratur ketika saya mulai menjilati selangkangan Cindy tanpa menyentuh vaginanya sedikit pun. Saya sapu lidah saya berulang-ulang, naik-turun di selangkangannya silih berganti kanan dan kiri.

Vagina Cindy ditumbuhi bulu-bulu yang cukup lebat yang terlihat sudah sangat basah dan lembab oleh lendir kewanitaannya. Bau khas lendir kewanitaanya sudah sangat menggoda keinginan saya untuk menenggelamkan seluruh wajah saya di situ, tapi saya ingin Cindy benar-benar terangsang dan menginginkan saya lebih dari segalanya. Maka saya tahan keinginan saya itu dengan tetap menjilati selangkangannya dan juga memegang tangan Cindy yang berusaha mengarahkan kepala saya ke vaginanya.

Sayang, apa yang kamu lakukan..? Ooh.. please, ciumin memek saya Sayang..! Please, suck my clit, please Sayang..! Fuck me, oohh.. please Sayang, jilatin memek saya..!
Kata-kata kotor Cindy mulai keluar dan terdengar sangat merangsang libido saya. Keringat dingin Cindy mulai keluar menahan nafsunya sendiri karena saya masih belum menyentuh vaginanya dan tetap menciumi dan menjilati selangkangannya.

Cindy mengerang-ngerang dan menjerit-jerit, memohon saya untuk menggarap vaginanya dan akhirnya saya lakukan juga. Jari telunjuk saya yang sebelah kanan saya sapukan di sela-sela bibir vagina Cindy yang ternyata sudah teramat basah dan saya jilati jari telunjuk saya. Lalu dengan kedua tangan saya, saya buka bibir vagina Cindy yang sudah lengket dengan lendir kewanitaannya. Oh.., vagina Cindy sangatlah sexy di mata saya. Di balik rimbunnya bulu-bulu kemaluan Cindy, ternyata kulit vagina Cindy bagian dalam juga berwarna pink dengan kelentitnya yang sudah amat membengkak sebesar kacang.

Lalu saya sapukan lidah saya di belahan vagina Cindy dari atas ke bawah dan Cindy mulai menjerit kecil.
Oougghh.. Sayang, oh iya Sayang.. please, dont stop. I like that, please fuck me Darling. Please.., please..!
Cindy benar-benar sudah terangsang, dan kali ini saya jilati vagina Cindy berulang-ulang dari atas ke bawah, bawah ke atas bergantian. Saya jilat dan hisap semua lendir kewanitaannya dan saya benar-benar menyukai rasanya.

Setelah habis saya telan semua lendir kewanitaannya, bibir vagian Cindy saya buka lebar-lebar dan saya julurkan lidah saya lebih dalam ke lubang vagina Cindy. Dan setelah semua lidah saya masuk lalu saya keluarkan lagi dan saya lakukan berulang-ulang dan Cindy menyukainya.
Sayang.., keep fucking me with your tounge..! Oh yes, oughh..!

Tiba-tiba saya arahkan lidah saya ke kelentit Cindy dan saya jilat lidah Cindy sekilas tapi membuat Cindy berteriak. Cindy tidak mengira kalau lidah saya akan menjilat kelentitnya karena di situlah tempat paling sensitif buat Cindy tapi sekaligus mejadi tantangan buat saya untuk memuaskan Cindy.

Saya menjulurkan lidah saya untuk kembali mejilati kelentit Cindy. Cindy mulai menggelinjang dengan hebatnya dan menjerit kuat ketika saya menghisap kelentitnya dengan kuat. Pinggulnya terangkat dan badannya mengejang bersamaan dengan mengalirnya lahar panas yang sangat banyak dari lubang vaginanya yang sebagian juga membasahi bibir saya. Terus terang, saya menyukai orgasme yang berkali-kali dalam satu kali permainan, dan saya ingin Cindy juga merasakannya.

Maka ketika badan Cindy mulai melemah dan cairan dari vaginanya masih mengalir, saya masukkan dua jari saya ke dalam vagina Cindy sampai saya dapat menyentuh G-Spotnya. Cindy menjerit kecil ketika jari-jari saya mulai masuk ke dalam. Sambil saya jilati kembali kelentit Cindy, saya mulai mengocok vagina Cindy dengan memasukkan dan mengeluarkan dua jari saya di vagina Cindy berulang-ulang. Saya tahu kalau kelentit Cindy mulai sensitif dengan sentuhan karena Cindy berusaha untuk menjauhkan kepala saya dari selangkangannya. Tapi saya tetap menjilati dan menghisap kelentitnya sambil mengocokkan jari-jari saya di vaginanya. Tangan Cindy pun mulai berhenti meronta dan Cindy pun mulai menikmati rangsangan di vaginanya kembali.

Oouughh.. Sayang. Keep fucking me..! Oohh yes.., faster, faster, darling..!
Kocokan jari-jari saya di dalam vagina Cindy makin saya percepat dan makin dalam, begitu pula dengan hisapan dan gigitan saya di kelentitnya sampai Cindy mengalami orgasme sekali lagi dan akhirnya tubuhnya melemah. Sesungguhnya saya ingin menstimulasinya lagi agar Cindy dapat mencapai orgasme sekali lagi agar dia benar-benar puas, tapi saya kasihan melihat Cindy sudah kelelahan, dan ini pengalaman pertamanya dalam menikmati orgasme.

Cindy menutup matanya dengan napas yang masih terengah-engah dan saya memandanginya sambil membelai-belai rambutnya. Sekali-sekali saya mencium lembut pipinya. Ternyata saya benar-benar mencintai wanita ini.

Cindy tertidur pulas sampai hampir 20 menit, dan saya tidak bosan-bosannya memandangi wajahnya. Saya benar-benar tidak percaya kalau saat itu saya dapat melihat, memeluk dan mencium seluruh bagian tubuh Cindy. Saya juga hampir tidak percaya bahwa cinta saya pada Cindy tidak bertepuk sebelah tangan. Akhirnya Cindy bangun dan mengatakan bahwa ia sangat lemas dan ngantuk.
Sayang, maaf yach Cindy ninggalin kamu tidur. Cindy lemas banget tapi juga puas banget. Kamu belum yach Sayang..? Kamu mau Cindy puasin juga..?

Tapi mata Cindy terlihat sangat mengantuk dan saya tidak mungkin tega untuk memintanya memuaskan saya. Akhirnya Cindy saya tarik dalam pelukan saya.
Ngga usah Sayang, kamu tidur aja di pelukan saya yach..!
Cindy mengangguk dan langsung tertidur lagi, saya pun akhirnya tertidur juga.

Kira-kira jam 01.00 siang kami bangun dan mandi bersama-sama. Setelah kami bercinta lagi, barulah Cindy mulai belajar memuaskan saya dan saya benar-benar puas karena memang saya sangat mencintainya. Hari-hari kami lalui dengan penuh cinta dan juga bercinta setiap ada kesempatan dan kesempatan itu setiap hari dan kami dapat melakukan 3 kali dalam sehari.

Sampai 2 tahun tidak terasa kami harus berpisah karena Cindy takut tidak dapat hidup tanpa saya. Dia memohon saya untuk membiarkannya pergi karena dia ingin belajar menjalani hidupnya tanpa saya di sampingnya karena kenyataan seperti itulah yang harus kami hadapi di kemudian hari. Kenyataan bahwa kami harus berpisah. Kalau saya masih mempunyai kesempatan untuk bertemu Cindy lagi suatu saat kelak, saya akan tetap mengatakannya bahwa saya masih mencintainya dan saya tidak akan pernah berhenti mencintainya dalam keadaan apapun di kehidupan kami.